Indonesiaku Sayang…
Indonesiaku kini Malang…
                Beberapa orde-orde telah berlalu, keringat darah, air mata nanah, dan teriakan sembilu dari masa lalu telah menjauh dan berakhir. Makam-makam pahlawan telah direnovasi sedemikian rupa sehingga membentuk garis-garis keindahan sarat perjuangan di dalamnya. Batu nisan yang menancap, seakan memberikan energy baru kepada rakyat serta bangsanya untuk lebih maju dan kritis dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah air tercinta, Indonesia. Namun, pada kenyataannya kali ini, masih banyak teriakan-teriakan rakyat-rakyat Idonesia yang menjerit-jerit. Bukanlah ulah dari penjajah, orang asing, peperangan, apalagi penyiksaan bertubi-tubi seperti di masa lalu, akan tetapi  ini real akibat ulah dari orang dalam itu sendiri, yang seharusnya memegang amanah, malah menjadikan serangkaian amanah yang dia emban tersebut sebagai busur panah yang bisa melukai siapa saja yang ia kehendaki. KORUPSI, menjadi masalah biasa dalam zaman globalisasi ini. Banyak orang-orang pintar tapi bermoral urakan. Orang cerdas malah dilindas. Dan rakyat malah jadi ajang pelampiasan.
                Indonesia, merupakan sebuah Negara berkembang, memiliki beragam keindahan dan berbagai jenis spesies yang beragam pula. Ditambah lagi memiliki lebih dari 234 bahasa daerah, dan 400 kebudayaan adat istiadat. Indonesia merupakan Negara yang padat penduduk ke-7 setelah India, mengalahkan Singapura, Malaysia bahkan Inggris sekalipun. Gunung-gunung menjulang tinggi di bumi pertiwi ini, lebih dari 35 gunung aktif dan lebih dari 40 gunung mati menjulang di berbagai wilayah di Indonesia. Sumber daya yang adapun, melimpah ruah dan sangat banyak. Bahkan kayu yang ditanampun bisa menjadi tanaman bila ditanam di tanah kita yang subur kaya akan humus.
                Namun, alangkah pedihnya kita semua melihat kondisi  sekarang. Indonesia yang pada Zaman Orde lama menjadi Macan Asia, kini harus tertidur lama karena perhelatan zaman yang semakin memanas. Negara-negara SuperPower unjuk kebolehan lewat aksi-aksi brilliant dan spektakulernya, sedangkan Indonesia? Hanya bisa pasrah sambil menggigit jari. Jangan salahkan bunda yang mengandung, jangan pula salahkan Negerinya, jangan salahkan pula factor keuangan dan Sumber dayanya, akan tetapi yang seharusnya kita fikirkan adalah, bagaimana caranya kita semua mengubah paradigma kolot yang masih bercokol dalam diri kita hingga sekarang? Ditambah lagi perilaku kita sendiri yang terlalu konsumtif dan melebihi batas keperluan yang seharusnya mencukupi kadar dan sesuai porsinya.
                Makanya, janganlah kalian menyumpah serapah! Sebelum kita sendiri berubah!
Indonesia….
Lautmu biru nan indah… ikan-ikannya berenang kesana kemari, terumbu karangnyapun beragam, indah,..  sejauh mata memandang, hijau hutanmu memberikan kenyamanan tersendiri bagi tiap-tiap diri yang menikmatinya. Lihatlah! Masihkah kalian berfikir bahwa Indonesia ini merupakan Negara yang serba kekurangan? Siapa yang patut kita salahkan sebenarnya?
                Kita lihat kenyataan yang terjadi bertahun-tahun kebelakang, ketika Ibu Meggawati Soekarno Puteri masih menjabat sebagai Presiden, beliau malah menjual tambang emas di Papua yang sekarang kita kenal dengan nama Freeport kepada Amerika, hanya untuk beberapa ratus milyar saja? Padahal seperti yang kita tahu, bahwa daerah Freeport atau mungkin Pulau Papua, merupakan Pulau Emas terbesar yang seharusnya bila Ibu Meggawati jual, mungkin harganya akan lebih dari milyaran bahkan lebih dari triliyunan, karena daerah Papua itu sendiri, dikelilingi oleh bukit-bukit emas yang sangat banyak sekali. Dan sekarang baru digali. Sedang  rakyat Indonesia? Lihat! Mereka malah hanya menjadi buruh kasarnya. Dan Amerika hanya bisa mengais keuntungannya. Sungguh sangat disayangkan bukan?
                Kita sering alpa terhadap hal-hal yang kecil, sehingga ketika terjadi peristiwa besar, kita hanya mengandalkan bukti-bukti yang kurang jelas sehingga terjadi kericuhan yang akhirnya tiada akhir penyelesaian sama sekali.
                Nha, lihatlah lagi kenyataan yang lain, kasus-kasus yang banyak menimpa Negara kita, misalnya Korupsi di Bank Century, yang hingga sekarang masih belum kita fahami proses penyelesaian yang selengkapnya. Kemudian, kasus Korupsi dan penggelapan dana Wisma Atlet, kasus Koruspi dalam kenggotan KPK, dan 1 lagi, kasus mesum yang dilakukan oleh anggota DPR.
                Mungkin bila kita pergi keluar negeri, dan banyak orang yang membicarakan hal-hal tersebut terhadap kita, pasti dalam diri kita hanya akan menggeleng lemas dan mungkin menangis keras, karena ulah dari para pemberi contoh itu sendiri yang selalu khilaf dan sering sekali khilaf dalam memegang prinsip amanahnya.
                Kemudian, kita bandingkan kehidupan kita di daerah Jakarta dengan daerah Lombok saja, mana yang lebih indah dan tertata? Mana yang lebih bersih dan stabil? Mana yang paling aman dan tidak? Kita pasti tahu kan jawabannya, wilayah Lombok merupakan wilayah yang memiliki keindahan laut yang luar biasa, tak kalah indahnya dengan pantai/laut di Bali. Di wilayah Lombok juga terdapat pengembang biakkan spesies Komodo, yang sekarang jumlah spesienya bisa dihitung dengan jari. Tapi, tak menutup kemungkinan bahwa banyak sekali perbedaan yang mencolok di dalamnya. Dan mengapa saya membandingkan Jakarta dengan wilayah Lombok?
                Bukankah wilayah Lombok itu sangat strategis dan tak terlalu memiliki penduduk yang padat? Tapi, mengapa rata-rata warga Indonesia betah dengan kepadatan penduduk yang terjadi di Jakarta? Dan bukannya mencari tempat tinggal juga penghidupan yang lebih layak dan baik untuk kelangsungan hidup dan keluarganya, namun malah berlomba-lomba menjadi beban Negara dan tetap setia dengan  prinsip tangan dibawahnya itu. Padahal, bila difikir-fikir, Jakarta tidak memberikan jaminan gaji yang besar jika bekerja, Jakarta  pula tak bisa menjadi fasilitator yang andal seperti apa yang mereka harapkan atau yang mereka cita-citakan, bila misalkan toh kita tak memiliki kemampuan yang besar, dan memadai, maka jangan terlalu gegabah dalam mengambil tindakan.
                Bukankah wilayah yang pesat itu tak hanya Jakarta saja? Bukankah masih banyak wilayah lain di Indonesia yang perlu dikembangkan? Mungkin Karena Jakarta merupakan IbuKota Negara Indonesia…
                Yah, tapi itu tak jadi alasan untuk kita terus menutup mata terhadap wilayah-wilayah lain, yang mungkin masih kurang mendapatkan perhatian. Baik dari pemerintah, maupun dari masyarakat lainya. Kita tak mau jikalau Indonesia yang kita cintai ini terbelakang dan tak bermetamorfosis menjadi Negara yang maju dan berfikir luas serta jauh kedepan. Sehingga, akan tercipta kemerataan sistem yang berjalan dengan baik dan sesuai dengan porsinya.
                Setelah kita mengerti dengan permasalahan-permasalahan yang menimpa bumi pertiwi kita, mari kita lanjutkan kepada hal yang lebih spesifik, yang mungkin kita sendiri merasa ogah untuk membahasnya, tapi disini kita akan ulas hal-hal kecil yang bisa kita hubungkan dengan peristiwa yang telah kita jalani dengan Dasar-dasar Negara kita. Tapi sebelumnya kita simak uraian pengertian dari Dasar Negara itu sendiri.  Dasar Negara adalah fundemen yang kokoh dan kuat serta bersumber dari pandangan hidup atau falsafah (cerminan dari peradaban, kebudayaan, keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh dalam sejarah perkembangan Indonesia) yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
                Nha, dari pengertian Dasar Negara tersebut, kita bisa lihat, betapa pentingnya keluhuran budi dan kepribadian dalam menegakkan falsafah pandangan hidup di Negara kita ini.
                Indonesia,
                Merah darahku
                Putih tulangku
                Bersatu dalam semangatmu
                Lagu tersebut, bukan sembarang lagu, lagu tersebut mencerminkan bahwa rakyat Indonesia merupakan orang-orang pekerja keras yang tak kenal letih dalam menjajakan pengorban mereka hanya untuk sesuap nasi. Tak ada satupun cita-cita yang terbayang selain ingin memiliki banyak uang. Betul begitu? Karena persentae rakyat Indonesia yang menginginkan kaya secara instan dengan rakyat Indonesia yang menginginkan kesejahteraan umum adalah 98% : 2%. Wah ! kacau kacau,,,,
                Indonesiaku….. malang sangat nasibmu, hanya bisa terpekur menanti harapan datang, hanya bisa mengadah untuk dapatkan kucuran kasih sayang, hanya bisa menatap keatas tak mampu menatap kebawah. Indonesiaku… padahal sejuta warna budaya hadir di tengah-tengah keindahan yang terpancar, begitu luas lautan yang terhampar, dan begitu rindangnya hutan-hutan yang tegak, ditambah lagi, betapa kokohnya gunung-gunung yang menjulang.
                Kemana masyarakat pemikir generasi penerus ini? Kemanakah perginya orang-orang cerdas yang mengabdikan dirinya di luar negeri  sana? Kemanakah beranjaknya para pedagang-pedagang sejahtera yang kini tergerus oleh perputaran zaman? Kita semua tak mau kan bila terus menerus memangku tangan tanpa menghasilkan apapun? Indonesiaku sayang, Indonesiaku kini malang.

By:Hilda ‘Amalia

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer