Langsung ke konten utama
Hakikat Cinta
Sudah menjadi kebiasaanku diam
mengurung diri di dalam kamar sambil merencanakan hal-hal apa saja yang harus
kuperbuat demi diriku. Ibuku, Teresa Lestari namanya, terlalu sibuk dengan
keperluan-keperluan yang aku juga tak mengerti pasti dan ke-3 adikku yang super
*AUTIS *(Tak bisa diam; “Menurutku”). Yang satu Arifin Gumelar, sekarang dia
tak tinggal bersama dengan kami karena ke-AUTISANnya yang sudah melebihi ke-2
adikku yang lainnya. Arifin sering di panggil olehku “SURTIKEM”, karena warna
kulitnya yang sawo buruk di tambah lagi ukh….. gayanya yang sok bule buanggeeeeeetz…..Huwekzzzzz
“*0*”. Dia sekarang duduk di kelas 6 SD. Adikku yang ke-2 is Munce Al-Razak
meski ada kata Razaknya, dia benci banget sama yang namanya rujak apalagi Es
Cendol (Yang menurutnya itu rujak) dia langsung ngacir, (Trust Me !). Adikku
ini kelakuannya kebalik sama adikku yang ke-3. Munce selain pemegang juara
SUPER AUTIS tingkat perumahan, dia juga jago ngerakit ROBOT. Sayangnya,
sifatnya yang mirip cewek (mungkin cewek kali y ! “Maybe”), membuatnya sering
diejek temen-temen cowoknya di kelas 2A SD. Tapi, gitu-gitu juga adikku pacarnya
banyak lho! Aku sebagai Kakaknya aja kalah. (Hik…Hik…Hik…T_T).
Itulah tempat kedua
untukku mengadu (Akh… Lebay) Setelah yang maha kuasa tentunya. Di sekolah aku
selalu terbuka, mengumbar tawa dan senyuman, berfikir positif, lembut dan
alhamdulillah… kata orang aku ini nyebelin (Itu intinya, sifat yang laennya mah,
tau tuch!). Aku selalu dibantu oleh sahabatku semua padahal aku selalu bingung
bagaimana caranya aku membalas kebaikan mereka semua. Di kelas aku jadi Wakil Panitia
Penyelenggara Ketertiban, Keamanan, dan Kepentingan Urusan Kelas (Aduh… Ribet
Banget ning, Klo Disingkat jadi W2PK3.UK) ~Sapa segh yang bikinnya?~. Walaupun
aku wakilnya terkadang aku gak pernah dihargai, malahan kalau ada masalah aku
yang selalu terakhir tau, dan jika ada yang membuat masalah, selalu aku yang
jadi bahan timpukkan (Hik….Hik…%_% malangnya daku).
“Narumi… Lelah hati ini menanti, kebingungn ini
seakan menari di dalam otakku, tak kuasa hatiku selalu dilanda tanda tanya yang membuatku merasa
bersalah, dan semua ini kurasakan hanya kepadamu bukan kepada yang lain, selama
ini kuterus berusaha untuk bertanya namun, yang ada kau menjadi semakin jauh
dari ku, bahkan walau ketika kita bertemu, ingin ku isyaratkan padamu bahwa
yang kubutuhkan dari mu sangat banyak, alangkah baiknya, jikalau sebagai
seseorang yang saling mengenal kau mema’afkanku walaupun aku sendiri tak tau
apa salahku selama ini yang mengganjal hatiku kepadamu, sebelum raga ini
hancur, sebelum jiwa ini rapuh, dan sebelum diriku ini tak ada kuingin kaulah
orang yang terakhir ku kirim surat, jikalau dirimu tak mema’afkanku, tak apalah,
biarlah kucari solusinya walau harus kukorbankan harta. Padahal hanya satu kata.
Namun, mengapa aku harus menderita, sampai menyiuk butir-butir hitam fikiran
buruk yang menerkam.
“Ishak…bukanlah
salahmu aku menjadi bertingkah aneh kepadamu, bukanlah salahmu aku tak berani
berjumpa denganmu, dan bukanlah salahmu aku jauh darimu, itu semua kulakukan
hanya untuk membuktikan pada diriku, bahwa dirimu hanyalah sebatas orang yang
kukenal di dalam hidupku, seharusnya kata ma’af itu aku yang ucapkan, karena
selama ini aku terus menerus menyimpan alasan ini karena ku kira kau takkan
pernah mau tahu, maka dari itu, lupakanlah aku, dan anggaplah aku tak ada di
dalam kehidupanmu, kumohon,,,, dan terimakasih banyak ku ucapkan, atas kerja
kerasmu selama ini demi meminta kata ma’af yang seharusnya kuucapkan padamu.
Regards; Narumi “.
“Emh… sebenernya… Ishak kemaren-kemaren SMS dan nelponin terus…, Narumi
jadi makin bingung, karena…. Ya, mungkin kalian tau kalo aku dari dulu suka
banget sama Ishak. Tapi, karena tingkahku yang konyol ini, dia jadi semakin
penasaran dan bertanya-tanya, ‘ada apa sih sama Narumi ampe sebegitu
ngehindarnya ma aku?’ karena itu dia berani minta nomor baruku ke Silvina
& terus menerus minta ma’af sama aku, karena mungkin dia juga ngerasa
bingung harus gimana buat menghadapiku. Aku jadi makin sedih dan bingung
banget, padahal itu kesempatanku seumur hidup untuk Confess ma Ishak, tapi, apa
coba yang aku buat? Aku malah ngusir dia dari hidupku dan membuatnya menjadi
semakin curiga dan bersalah sama aku, Narumi harus gimana coba Gals?”.
“Emh… sebenernya, selama ini tingkahku selalu aneh jika berada di
hadapanmu, dan reaksiku selalu kacau jika bertemu, berbicara, ataupun
bertatapan mata denganmu, entah mengapa jantungku selalu berdegup kencang dan
aku tak pernah bisa mengontrol diriku, makanya aku selalu menjauhi dirimu dan
berusaha untuk melupakan semua tentangmu, padahal sebenarnya aku tak mau
menghindar darimu, ataupun sampai melupakanmu. Ma’af, aku minta ma’af… sungguh
aku tak mau ini terus terjadi padaku, makanya aku merencanakan semua ini,
supaya aku dengan jelas menjelaskan semuanya padamu, aku tak bermaksud
menyembunyikannya darimu, apalagi aku tak mau kau terus menerus bingung akan
tingkahku selama ini padamu, so’ I truly beg to you, please forgive me! Aku…
selama ini selalu…. Selalu… Men…”
“Asal kalian tau, sebenarnya udah dari kecil
Narumi punya satu penyakit, yang terus menggerogoti sistem imun dan Lambung,
sehingga alat Pencernaannya gak berfungsi dengan baik nama penyakitnya “Tukak
Lambung Kronis”, penyakit itu sudah menggerogoti lambung, sehingga sering
kali Narumi akan meringis kesakitan yang luar biasa di daerah perutnya. Di
indonesia belum ada obat ataupun orang yang bisa menyembuhkannya, hanya satu
negara yang bisa merawat dan menyembuhkan penyakitnya, yaitu negara Sakura
alias ‘Jepang’ , dokter bilang Narumi bakalan dirawat disana kurang
lebih selama 10 bulan-2 tahunnan, Karena Narumi akan mengalami 4 kali operasi,
dan perawatan yang harus dijalaninya setiap hari di sana, katanya ibunya Narumi
juga menyetujui semua itu, karena beliau ingin kesembuhan Narumi kembali lagi,
maka dari itu ibunya Narumi gak mau kalian semua tau, apa yang akan terjadi
pada Narumi, dan konsekuensi yang akan di hadapi oleh Narumi juga besar, jika
ada kesalahan dalam sekali operasi, maka nyawa Narumi takkan bisa diselamatkan
lagi alias…. “
“Narumi… (Hosh…Hosh…Hosh…), akhirnya ku menemukanmu, please, dengerin
aku ngomong dulu, karena cuma kali ini aku berani mau ngomong ini sama kamu,
sebenernya dari dulu aku udah suka sama kamu, tapi, aku malu buat ngungkapinnya,
ditambah lagi tingkahmu yang aneh padaku waktu itu, makanya aku bulatkan
tekadku untuk nyatain sekarang, karena aku nggak mau perasaan ini terus
menunggu.”
Akhirnya sampai juga kami
di bandara Narita, Tokyo, tepat pada pukul 05.17 waktu tokyo. Di bandara kami
di jemput oleh dokter penyakit dalam namanya Higeshi Karada, wajahnya baby face
banget, ditambah lagi beliau baru lulusan S2 di University Of Tokyo (Eh, dia
masih lajang lho! Ada yang minat? Hahahaha ^0^), aku langsung dibawa ke
International Tokyo Hospital, dan aku mendiami kamar nomor 045. Di sana
bersiiiiiiiiiiiih banget, dan udaranya sejuk, karena rumah sakit ini berada di
kaki gunung fuji, (100% Ngarang Ok!!) aku mulai terbiasa dengan lingkungan
baruku ini, ditambah lagi bahasa jepangku yang lumayan terasah selama berada di
sini. Dan sekarang aku mulai bersekolah di sekolah khusus pasien rumah sakit,
walaupun khusus pasien, bukan berarti mudah lho, untuk masuknya saja harus mengikuti
tes saringan selama 3x, aku adalah orang Indonesia yang beruntung, karena masuk
yaaaah…. Meskipun nilainya pas-pasan.
Hari-hariku mulai terbentuk
dan terlukis disini, selain itu berbagai perawatan, dan pengobatan terus
kujalani, aku harus bertahan demi kesembuhanku. Aku sempat gugup dan takut pada
operasi yang dilakukan pertama kali padaku, operasi itu hampir gagal. Namun,
akhirnya aku mampu bertahan sampai akhir dan lambungku sudah tak terlalu sakit lagi, aku selalu bercerita
pada dokter Karada tentang pengalamanku dan kenanganku selama di Indonesia
termasuk Trio SiTaLo, dan Ishak Wahab. Eh, sedikit demi sedikit dokter Karada
juga mampu berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, meskipun masih belum
sempurna. Tapi, asyik juga.
Wa,
wa’alaikumsalam Warahmatullah, Us, Us, Ustadz?? Masyaallah,,,saya tak menyangka
tamu yang dimaksud adalah anda, ‘afwan, ana barusan sedang ada pekerjaan, jadi
membuat Ustadz menunggu lama“
“Eh,
emangnya ada apa dengan wajahku sehingga membuatmu kaget setengah mati?
emangnya wajahku kayak setan ya, sampai membuatmu takut? ikh,,, Ishak nyebelind
dech… ngomomg-ngomong sejak kapan kamu mahrom-mahroman kayak gini? perasaan
waktu dulu kamu gak kayak gini dech, meskipun waktu dulu kamu pinter tentang
agama, tapi, kamu enggak ampe kayak gini, and ditambah barusan kamu jadi imam
shalat Subuh, O~Mai~Gad!! it’s not like usual, ada sesuatu yang beda dari kamu,
and…
“ugh…
masa’ sih kamu udah lupa? padahal kan baru 3 tahun kalian berdua berpisah,
masa’ kamu udah tiba-tiba lupain perasaan yang dulu kamu rasakan terhadap
Narumi ?? Ishak, asal kamu tau ya, keadaan Narumi, semakin hari semakin
memburuk, dan seharusnya sekarang dia pulang, tapi, nyatanya dia masih belum
pulang-pulang juga. Apa kamu gak ngerasa khawatir sama dia Ishak? Ok lha, Fine
mungkin kamu udah jadi orang yang hebat, punya segudang penghasilan and kamu
juga punya perusahaan yang mapan. Tapi, sampai kapan kamu bakalan kayak gini?” Silvina
bercerita sambil menangis.
Dengan langkah yang penuh
semangat membara, Ishak pun melewati jalan demi jalan dengan mulus, (Yaah…
meskipun ada tai ayam sedang terdampar di tengah jalan juga, hajar saja,
ckckckc). Tanpa fikir panjang, setelah sampai dirumah, ia langsung berganti
pakaian dan bersiap menemui Pak Ustadz Romli. Dengan sekali naik bus, akhirnya
Ishak sampai juga di kediaman Pak Ustadz Romli yang berjarak kira-kira…….
Sebegitulah, (abiznya gak bakalan muncul di soal UN koq). Di hadapan Ishak
berdiri sebuah rumah yang sangat baguuuuus – sederhana. Setelah sampai di
ambang pintu, Ishak ragu untuk mengetuk daun pintu yang tertutup rapat
tersebut. Namun, tak ada kata ragu sekarang sudah harus lebih berani. Sebelum
Ishak akan memulai mengetuk kembali, tiba-tiba… (Ckreeeeeet CEeeeeet Creeettt prang
gedeblug tidiiiit) ~Aduch, Alay~
“Sebelumnya
pak Ustadz, ana meminta ma’af yang sebesar-besarnya kepada Ustadz, Istri pak
Ustadz, dan terlebih kepada anak pak Ustadz, karena tujuan ana kemari bukan untuk
menerima tawaran lamaran itu, melainkan untuk ana tolak, ‘afwan Ustadz,
sebenarnya ana sejak lama telah menyukai seseorang yang sampai sekarang perasaan itu, masih ana
rasakan. Ana berfikir, bahwa dialah yang dapat melengkapi pecahan-pecahan diri
ana, dengan rasa cintanya. Mungkin ana terlalu berharap akan dirinya, namun,
ana masih belum juga tenang, karena sampai sekarang ana belum sempat berterus
terang terhadapnya, dan ketika Ustadz datang menawarkan lamaran terhadap ana, ana
ingin menolaknya ketika itu, namun, anapun menghormati Ustadz yang datang
secara jauh-jauh menemui ana langsung, sempat terfikir oleh ana untuk segera
dapat memiliki seorang pendamping, dan setelah ana tela’ah semuanya berujung
kepada orang itu. Entah harus bagaimana ana sekarang, ana juga merasa bersalah
terhadap Ustadz.”
Dengan dada yang bergerak
amat cepat dan nafas yang tak dapat dikendalikan ishak merasa semakin ketakutan,
karena Ishak tau, cara marah ustadznya itu, sejuta pemikiran buruk terlintas silih
berganti di dalam otaknya, memikirkan beribu-ribu kemungkinan yang akan terjadi
terhadapnya yang telah mengatakan segalanya tanpa pemikiran yang dalam, namun,
dengan memikirkan tujuan yang sebenarnya yang telah tersampaikan, hatinya
semakin tenang, sambil beristighfar, Ishak menanti jawaban, kemudian Ustadz
berkata
“Ishak, ini semua data tentang Negara
Jepang,dan kamusnya klo kamu memerlukannya untuk percakapan ringan, ini alamat
rumah sakit dan rumah kontrakannya Narumi, dan ini yang terakhir, nomor HaPenya
Narumi, dan satu lagi, tolong berikan
semua makanan terutama kado ini, aku telah menyiapkannya dari jauh-jauh hari, tadinya
mau kukirim lewat paket, tapi ,karena biayanya mahal, maka kuurungkan niatku.
Makanan itu adalah semua makanan yang ia sukai dan kado itu, itu merupakan kado
istimewa dari Vina, Tania, dan Lopez sebagai hadiah hari Ulang Tahunnya yang
udah kelewat 2 hari yang lalu, tolong sampein rasa kangen dan sayang aku sama
dia, and….”
“Ketika Ibu akan menyuapinya makan, Ibu
menerima telepon dari Vina, sahabatnya Narumi, ia mengatakan bahwa akan ada
seseorang yang datang ke Jepang, dan ia merupakan seorang pria yang mungkin
Narumi pasti mengenalnya, Vina mengatakan bahwa ia berharap kalau Ibu
menjemputnya di bandara, dan merawatnya di rumah Ibu, karena ia datang hanya
untuk membicarakan sesuatu. Awalnya ibu kaget, dan menolak untuk menerima
apalagi sampai mengurusnya di rumah ibu yang ibu fikir itu tak mungkin. Namun,
setelah Narumi tau akan hal itu ia jadi lebih ceria dan makan pun tak lagi
sulit, ia jadi banyak tersenyum dan tertawa. Dan Ibu tak tega jikalau
membuatnya semakin kecewa atas maksud penolakan ibu itu, dan akhirnya setelah
difikirkan lebih jauh, ada baiknya pula bagi Narumi, ditambah lagi, Ibu bisa
dengan leluasa bekerja seperti biasa. Ibupun tak menyangka bahwa orang yang
akan datang kemari itu adalah kamu, Ishak, ibu berharap kau dapat membuatnya
bahagia karena setahu ibu Narumi selalu menangisi perpisahannya denganmu ketika
di bandara kemarin”
Pada tanggal
tersebut aku di bawa ke rumah sakit di Jepang, beribu-ribu jarum menusuk kulitku
yang tak bersalah, bagian perutku terus menerus dirobek dan dijahit kembali, berbagai
macam racun untuk penyakitku telah kutelan, air dari infusan seakan air raksa
yang membuat tingkat keasaman di perutku hancur, nafaspun menjadi sesak, mata
seakan enggan untuk berkedip, tubuh ini… seakan tak menginginkan rohku untuk
menempatinya. Terkadang aku selalu menyalahi diri, terkadang aku selalu merasa
yang paling menderita, dan aku selalu merasa bahwa ajal ini di depan mata.
Namun, cara pandangku berubah setelah aku menyebut namaNya, nama Allah yang
Maha Indah yang terkumpul menjadi 99 nama yang Agung, dari situ aku mulai
mencoba bertahan, meski jutaan peperangan dalam batin dan raga ini berkecamuk.
Tapi, aku harus bertahan kujadikan do’a adalah senjata utamaku dan aku jadikan
dzikir sebagai pelindungku, nama Allah sebagai obat jiwaku. Ya Allah… sampai
kapan aku akan bertahan? sampai kapan aku menginjakkan kakiku di atas bumi ini?
sedangkan aku masih belum membahagiakan ibuku, aku masih belum mengucapkan terimakasih
kepada sahabat-sahabatku, dan aku masih belum mengungkapkan perasaanku kepada
seseorang yang kuharap menjadi pendampingku. Ya Robb, izinkanlah aku berkata kepada
mereka semua, bahwa aku “mencintai mereka karenaMu”.
Narumi, bagaimana keadaanmu disana?
Apakah dirimu baik-baik saja? Mengapa kau jarang memberi kabar pada kami
?jangan bilang kamu udah lupa sama kita, eh… yang nulis surat ini Tania lho!!!
yang bikin kata-katanya Vina, and kertas, sama tintanya dari Lopez (hahahaha)
eh , kita disini kehilangan kamu banget tau , kita kagen sama kamu, and asal
kamu tau aja ya, kita tuch pengen kita kumpul kayak dulu lagi, dimana kamu
masih manja-manjanya sama kita, dimana kita masih sering jalan bersama,makan
bersama, dan kalau ada masalah, kita selesain bersama, kita masih inget pas
kamu nangis gara-gara belum Confess ma IShak waktu itu, dan kita seneng banget
bantuin masalah kamu karena kita bertiga ada karena kamu. Selama kamu di
Jepang, kita gak pernah sedetikpun lupa sama kamu, malahan setiap jalan yang
kita lewati selalu hadir wajah kamu, kamu salah seorang sahabat kita yang
paling berharga. Dan kita bahagia kalau kamu bahagia, oh iyya… Selamat Ulang
Tahun ya, ma’af kita ngucapinnya telat, tapi kita udah nitipin kado koq ke
Ishak, klo kadonya gak nyampe, kasih tau kita nanti kit ahajar tuch si Ishak.
And Semoga Cepet sembuh ya ,, jangan terlalu lama tinggal di negeri orang lho
!! Nanti kita gimana? and satu lagi, jangan sia-siakan kesempatan kamu wat
confess ma Ishak, mumpung kesempatan di depan mata. GOOD LUCK!!
“Kau tau, Narumi
baru saja selesai Operasi malam tadi, dan penyakit di tubuhnya semakin parah,
sedang obatpun kian tak kunjung ditemukan, dan dokter bilang bahwa mereka tak
dapat apa-apa lagi untuk penyakitnya, penyakit yang Narumi alami benar-benar
aneh, penyakit ini menyerang lambung dan usunya, maka terkadang makan dan
minumpun terganggu, ketika dioperasi, ternyata usus besarnya semakin parah
lambungnya pun berlubang, dijahit dengan menggunakan apapun takkan bisa lagi
menyembuhkannya”
“Ibu, jangan
berbicara seperti itu, sebenarnya yang bisa menyembuhkan kita itu bukanlah
obat, bukanlah fasilitas yang mahal, itu semua adalah ikhtiar kita, dan ibu
telah berikhtiar untuk kesembuhan Narumi, dan ibu tau kan setelah ikhtiar dan
berdo’a kita harus apa? Ya, jawabannya adalah Tawakkal, karena sesungguhnya
yang dapat memberikan kesembuhan itu adalah Allah bukan dokter, dan yang dapat
memutuskan sesuatu itu juga Allah bukan bukan dokter, dukun, orang tua, dan
bukan juga hal lainnya. Kita percayakan semuanya, kita ambil hikmahnya dari
semua ini”
Ishak mengucapkan salam
perpisahannya dengan ibu Teresa, setelah sampai di bandara Narita ia langsung
menaiki pesawat dengan nama yang sama seperti ia berangkat ke Jepang dulu.
Sementara itu, di rumah sakit keadaan Narumi semakin memburuk bahkan ia sempat
tak sadarkan diri berkali-kali, dokter Higeshi dan suster Fuyuki berusaha sekuat
mungkin untuk menangani penyakit yang diderita oleh Narumi, dokter Higeshi
langsung mengadakan operasi buta (Tanpa persiapan) dengan para dokter bedah
lainnya. Alunan dzikir membahana disertai teriakan sakit yang dialami oleh
Narumi, membuat Ibunya sempat panik dan kebingungan dengan apa yang harus
diperbuat, Ibu Teresa hanya mampu berdo’a, terus berdo’a, menenangkan fikiran
dan hatinya menata stiap kata dan fikiran buruk yang menggelayut di benaknya,
ditepis satu-persatu kemungkinan dan akibat yang akan menimpa putrinya. Di
dalam do’anya teringat ucapan Ishak yang sempat memberitahunya jikalau ada
suatu hal maka ibu Teresa harus mengabarinya, tanpa berfikir panjang Ibu Teresa
mengambil HandPhonenya, sejurus kemudian ia menghubungi Ishak dengan beberapa kali
tetapi, Nomor HP Ishak tidak aktif. Setelah dicoba ke-10 kalinya barulah Ishak
menjawabnya,
Tanpa fikir panjang, Ishak
langsung menerobos keluar dari pesawat tanpa memikirkan koper dan barang-barang
lainnya, padahal waktu itu keadaan pesawat tengah membaik dan pesawatpun akan
take-off, dengan perasaan yang penuh kekhawatiran dan kecemasan akan Narumi ia
terjang pintu masuk pesawat dengan cara melompat keluar dari pesawat terbang
yang tingginya 3 meter lebih itu, tanpa memikirkan rasa takut Ishak berlari
menerobos antrean di bandara Narita, menerobos jalanan padat ramai oleh para
warga jepang yang berlalu lalang ia keluar dari bandara Narita dengan perasaan
yang sangat cemas, merasa takut seperti dikejar hantu dengan cepat ia menaiki
taksi yang melintas kearahnya. Tanpa banyak berbicara lagi sopir taksi itu
langsung membawa Ishak sampai ke tempat tujuan, yaitu Rumah Sakit dimana Narumi
sekarang sedang menjalani operasi. Dengan perasaan gelisah Ishak mencari dan
mencari letak ruang operasi, ia mencari Ibu Teresa yang biasanya terduduk di
ruang tunggu, ia mencari-cari di kamar yang pernah Narumi tempati, di Apotek,
dan di kantin, tetap jua ishak tak menemukannya. Dan dalam kegalauan hati Ishak
berdo’a
Kalau kau telah menerima
surat ini, berarti diriku sudah tak ada di dunia ini lagi. Rasa syukur dan
Terimakasih aku curahkan kepada Zat Yang Maha Kuasa, karena atas takdirNya,
kita dipertemukan. Maafkan aku jikalau aku punya salah kepadamu, dan maafkan
aku jikalau aku pernah bersikap kasar kepadamu, sungguh,,, aku terkadang
menyesal jikalau aku mengingat hal-hal buruk yang telah lalu, selama ini kita
telah saling mengenal bahkan pernah terbesit perasaan dísela-sela hidupku, aku
bingung apakah maksud semua itu, namun kucoba tuk tepiskan dari benakku, harus
kau tau, sebenarnya dari dulu aku tak ingin kita berpisah, tuk sementara bahkan
tuk selamanya.Tapi, dosalah diriku jikalau aku terus menerus mengingat dirimu,
daripada Tuhanku, Allah. Kufikir, keinginanku untuk segera menikah akan
tercapai, tapi nyatanya harus tertahan dan memang nyatanya harus tertahan,
sakit ini, perih ini, duka ini. Hanya aku saja yang rasa, tiada seorangpun yang
tau kecuali Sang Khalik semata, malaikat Azroil selalu bersiap disampingku,
bersiap tuk menjemput nyawaku bertemu dengan Tuhanku, Allah. Sekiranya aku juga
tau, hidup ini adalah amanah yang harus dijaga kesuciannya, tapi, aku hanyalah manusia
biasa yang tak luput dari beragam maksiat. Maksiat mata, hati, jiwa, dan dunia.
Jujur, aku tak ingin perasaanku ini terus menerus kupendam padamu, meski hanya
lewat goresan tinta, namun inilah memang apa yang kurasa. Sebenarnya Ishak, aku
menyukaimu, bukan semata-mata nafsu semata tapi, nyata karena Allah. Entah
bagaimana perasaanmu kepadaku, bila
memang kau memiliki perasaan yang sama denganku, aku akan sangat senang sekali
mendengarnya. Bila tidak, aku masih menganggapmu sebagai sahabatku.
Ada kehidupan, pasti ada pula kematian. Tak ada
yang abadi di dunia ini, karena kita adalah makhlukNya. Mungkin
melalui surat ini kau akan mengerti perasaanku, dan melalui surat ini pula kau
akan mengerti betapa galaunya diriku. Ishak aku selalu berharap kaulah yang
ditakdirkan Allah untukku, meski tak di dunia, akhiratpun tak mengapa. Namun,
kali ini aku harus pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Entah mengapa aku
merasa seperti ini, mungkin memang batas umurku telah dekat. Aku berharap, kau
bisa bahagia menjalani hidupmu, jangan kau sia-siakan waktumu di dunia,
pergunakanlah ia sebaik mungkin. Jadilah orang yang sukses di dunia maupun di
akhirat. Capai semua inginmu dan jangan pernah kau mundur apalagi berputus asa.
Semoga kau dapatkan wanita yang salihah yang menjadi pendampingmu. Aku sudah
tak mampu apa-apa lagi untukmu. Karena aku terlalu lemah dan lemas. Kita saling
mendo’akan saja ya! ^_^.
Komentar
Posting Komentar