Aku dan Keluargaku


AKU dan KELUARGAKU
       Semenjak aku dilahirkan ke dunia ini, tak pernah kurasakan kasih sayang dari kedua orang tua seperti halnya teman-temanku yang lain. Sejak usiaku 7 bulan, aku diasuh dan dididik oleh kakek dan nenekku, aku dirawat dan dibesarkan oleh mereka berdua dengan sepenuh hati. Sedangkan ayah dan ibuku tengah perang dingin dikarenakan factor ekonomi yang tengah melanda kami. Selagi ayah dan ibuku sibuk dengan pekerjaan masing-masing aku tinggal bersama kakek dan nenekku, sampai adikku yang pertama hadir. Akan tetapi, aku baru mengetahui kalau aku memiliki seorang adik, ketika aku genap berusia 4 tahun. Dan ketika itu adikku tengah berumur 2 tahun. Adikku tak tinggal bersamaku, dari kecil adikku sudah diasuh oleh ibuku, dan kuakui, adikku lebih beruntung bila dibandingkan denganku. Dari umur 2 tahun, aku selalu membantu nenekku membuat telur asin dan kemudian kami menjualnya dengan harga Rp 2,-. Aku selalu menemani kakekku berdagang di pasar pelita berjualan telur ayam. Dari kecil, aku selalu dididik keras oleh kakek. Sedangkan adikku tidak. Tak ayal, setiap perbuatan kecil yang salah di mata kakek maka satu pukulan rotan menghantam tubuhku yang lemah dan kecil. Dan aku beruntung, karena aku bisa memetik pelajaran berharga dari cara mendidik kakekku. Aku selalu membuat nenekku menangis, karena sifatku yang keras kepala, nakal dan rewel. Tapi, kasih sayangnya melebihi ibuku. Ketika umurku 2 tahun, ibuku dan ayahku bercerai. Ayahku pergi entah kemana, padahal dari kecil aku belum pernah melihat wajahnya. Tidak seperti adikku yang selalu berada di antara ayah dan ibuku. Ketika itu, ibuku menitipkan adikku kepada kakek dan nenek. Dan darisitulah aku mulai mengenal sosok adikku ini. Banyak sekali masalah yang terjadi melanda keluargaku saat itu. Hingga mengharuskan ibuku berkeliling kota untuk melarikan diri. Karena adikku masih kecil, maka ibuku membawa sertaku untuk berkeliling kota mencari kerja. Itulah pertama kalinya aku bisa terus menerus bersama ibuku, selama 5 bulan aku terus menerus menemani ibuku berkeliling kota, mulai dari Palembang (Batu Raja,Lahat), Bogor (Puncak), Bandung (Buah Batu), Jakarta (Pluit,Depok),Yogyakarta. Dan kota-kota lainnya di Indonesia. Setelah ibuku mendapatkan pendapatan yang cukup, maka ibuku mengantarkanku kembali kepada kakek dan nenekku. Dan ibuku kembali pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan lagi dan sekarang tanpa ditemani olehku. Aku tak nyaman berada bersama adikku, karena aku merasa iri padanya yang dari kecil mendapatkan perhatian lebih dari ayah dan ibuku ketimbang aku, maka dari itu, aku selalu memusuhi, dan menjahilinya (namanya juga anak kecil ^_^). Aku tergolong anak yang paling nakal. Karena aku selalu banyak bertanya, rewel, aktif dan tak bisa diatur, hingga kakekku yang keras dalam mendidik selalu mengunciku seharian di kamar mandi, atau memukuliku dengan sabuk atau sapu lidi. Aku hanya bisa menangis memeluk nenekku. Usiaku terus bertambah. Karena factor ekonomi, aku selalu membantu nenekku untuk berdagang apa saja di pasar, makanpun terkadang hanya tahu dan tahu sepanjang hari. Pada umur 5 tahun, aku sudah bisa mencuci bajuku sendiri dan melakukan tugas rumah lainnya. Kenangan yang paling membuatku sangat sedih sekali yaitu ketika pukul 4 pagi setelah shalat subuh, nenekku membangunkanku untuk mengambil air dari rumah Uwakku untuk keperluan mencuci dan minum, juga ketika pada waktu kakikku patah dan harus dirawat selama 1 bulan di bogor. Kakekku selalu mendidikku, sedangkan nenekku siap menjagaku. Karena sifatku yang serba ingin tahu maka nenek dan kakekku memasukanku ke Sekolah Dasar padahal usiaku baru 5 tahun. Ternyata nenek dan kakekku bahagia melihatku bisa memakai seragam sekolah, sehingga aku berusaha keras untuk mendapatkan peringkat terrbaik, dan Alhamdulillah pada kelas 1 SD peringkatku selalu nomor 1. Akan tetapi, dengan berat hati aku harus pindah sekolah, karena kakek dan nenekku mendapatkan rumah yang lebih baik, dari yang selama ini kami tinggali. Dan adikku kini tak bersamaku lagi, karena adikku diasuh oleh nenek dari pihak ayahku. Kini aku bersekolah di SD bergengsi di tempatku kala itu. Karena persaingan yang sangat ketat, nilai-nilaiku surut, mengecewakan memang. Tapi, aku terus menerus mencoba, dan akhirnya aku berhasil. Meski hanya bisa masuk 10 besar. Saat usiaku 7 tahun, ibuku menikah lagi dengan seorang muallaf berkebangsaan Belanda. Maka, ibuku harus ikut kepada suaminya tinggal di Belanda. Ibuku tak pernah memita persetujuanku untuk menikah lagi, maka dari itu, aku selalu bersedih. Pada awalnya ayah tiriku itu selalu baik padaku, aku senang sekali. Akan tetapi, kini terlihat sudah sifat-sifatnya yang buruk. Aku selalu dipukul, ditampar dan dicemooh secara berlebihan, diatur, dan dididik dengan cara yang benar-benar keras melebihi didikan kakekku, karena mungkin ayahku itu keturunan barat. Maka segala sifat-sifatnya selalu keras. Karena perlakuan kasar ayah tiriku itu, kakekku selalu memarahinya bahkan selalu memberikan peringatan-peringatan dihadapannya. Dan aku sudah biasa melihat pertengkaran-pertengkaran semenjak usiaku 3 tahun, maka tak asing lagi bagiku suara-suara yang saling ditinggikan dan tatapan marah keluargaku saat betengkar. Karena pertengkaran kakek dan ayah tiriku itulah, maka kakek dan nenek harus rela diusir dari rumah ibuku dan mencari tempat tinggal baru, aku turut serta bersama kakek dan nenekku. Usiaku kini 9 tahun. Dan kakekku sudah tak mendidikku dengan cara yang keras lagi. Sekarang kakek sudah terlihat banyak tersenyum dan selalu menghiburku dikala aku kesepian. Ketika kelulusan SD digelar, aku menangis tersedu-sedu memeluk nenekku. Bukannya aku tidak lulus atau nilaiku yang kecil, akan tetapi, pada hari dimana biasanya ayah, ibu, dan seluruh anggota keluarga datang untuk sekedar melihat anaknya ke atas panggung untuk mengambil tanda kelulusan. Tapi, dihadapanku hanya ada nenekku seorang, tak ada ayah, ibu ataupun adik, sedangkan kakekku sibuk berdagang. Seluruh teman-temanku selalu mencemoohku. Mereka menganggap aku tak memiliki ayah, dan ibu yang kabur. Hatiku sakit, bukan kebahagiaan yang kudapat, malah kesedihan yang kudapat dari teman-temanku semenjak kecil. Nenekku hanya bisa berpura-pura tak mendengar dan hanya bisa mengusap air mataku yang tumpah. Aku ingin membahagiakan kakek dan nenekku dengan aku masuk ke SMP negeri, tapi, sayangnya Allah tak mengizinkanku untuk bisa belajar di sekolah favorit, maka dengan berat hati aku sekolah di MTs Swasta. Sifatku sangat buruk di sekolahku, tak sebanding dengan prestasi-prestasiku. Tak ayal jika setiap hari kakak seniorku selalu menatap wajahku dengan rasa tak suka. Sebenarnya aku tak ingin seperti itu, akan tetapi, itu dikarenakan rasa kecewaku yang masih tertanam di hati karena aku tidak diterima di sekolah favorit.
          Satu tahun sekali, ibuku dan ayah tiriku selalu mengunjungiku dan nenek kakekku. Kala itu, ibuku tengah hamil 3 bulan, dan aku tahu, sebentar lagi aku akan mendapatkan adik lagi. Dan kufikir, setelah aku mendapatkan adik, hubunganku dengan ibuku akan kembali utuh. Akan tetapi, setelah adikku lahir, ibuku semakin sibuk mengurusi dunianya hingga adikku yang masih bayi ini sering ditinggal tanpa disusui. Tapi, rasa cintanya besar sekali kepada ibuku, sampai-sampai aku iri jikalau melihat ibuku berdua tertawa bersama adik bayiku, sampai melupakan kehadiranku di hadapannya. Biasanya ibuku selalu menjawab segala pertanyaanku meskipun, aku selalu tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh ibuku. Namun sekarang, sepertinya mendengarkan omonganku saja ibuku tak mau, karena ibuku lebih memilih bermain bersama adikku dibanding mendengarkan curahan hatiku. Nenekku selalu siap mendengarkanku, meskipun jika bosan, nenekku selalu tertidur, sebelum ceritaku usai. Namun, aku selalu puas dan lega ketika aku bisa bercerita kepada nenek. Ibu dan ayah tiriku kembali lagi ke Belanda, dan adik bayi itu dibawa serta ke negeri kincir angin itu. Aku semakin kesepian. Senyuman demi senyuman aku lontarkan demi menghibur hatiku yang tengah sepi. Karena aku semakin dewasa, maka pergaulanku pun semakin luas. Sehingga seringkali aku dan nenekku bertengkar hanya karena masalah itu, aku jadi sering menghabiskan waktu bersama teman-temanku dibanding bersama dengan kakek nenekku dirumah. Ketika kecil dulu, kakek yang selalu memarahiku, tapi, ketika aku mulai remaja, nenekku yang smakin rewel memarahiku sedangkan kakek hanya bisa memperhatikan sikap-sikapku yang semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Pakaian yang kukenakan selalu ketat dan menampakkan lekak lekuk tubuhku. Nenek dan kakekku tidak risih melihat penampilanku, akan tetapi mereka selalu risih dengan sikapku yang sekarang lebih buruk. Mugkin karena kurangnya kasih sayang ayah dan ibu. Aku terkadang selalu kesal terhadap sikap kakek dan nenekku yang tidak sesuai dengan keinginanku, mungkin mereka sudah tua. Maka, kerap kali mereka lupa apa-apa saja yang mereka utarakan atau perbuat. Karena sedari kecil aku selalu dimanja nenek. Sikapku terhadap nenekpun selalu buruk. Terkadang, aku selalu menyuruh nenekku untuk memenuhi semua keinginanku, terkadang jika nenekku berbuat salah, aku selalu memusuhinya dan tidak berbicara pada beliau selama 3 hari, aku selalu melawan nasihatnya, aku selalu acuh padanya. Akupun selalu begitu pada kakekku. Namun, nenek dan kakekku tetap menyayangiku. Tapi aku? Aku malah memusuhi mereka dan menganggap mereka pembantu. Mungkin, pada saat itu aku benar-benar menjadi sosok yang durhaka. Uwakku sudah tak tahan melihat sikap burukku yang kekanak-kanakan. Uwakku memberitahuku semua pengorbanan kakek dan nenekku kepadaku, mereka mendidikku, mereka merawatku, mereka membesarkanku, dan menyayangiku melebihi ibu dan ayahku yang entah pergi kemana. Uwakku menasehatiku panjang lebar. Hingga ketika pada waktunya tiba uwakku meninggalkan kami semua dari dunia ini. Aku turut bersedih, dan kemudian sedikit demi sedikit mengubah sikapku yang kekanak-kanakkan menjadi lebih dewasa. Bahkan aku mencoba membuka kembali tabir-tabir kasih sayang dihatiku untuk dua sosok renta dihadapanku kala itu. Ketika nenekku sakit, aku mengorbankan sekolahku (Bolos) hanya untuk membantu pekerjaan rumah, dan untuk merawatnya. Ketika kakek membutuhkan tenagaku di toko, akupun bolos dari sekolah, hanya karena ingin membantu meringankan pekerjaannya. Meskipun rasa gengsi yang ada dalam hati ini masih bersemayam. Aku coba tepiskan segalanya dan mencoba sekuat tenaga untuk merubah sikapku yang buruk ini. Karena aku yang selalu dielu-elukan oleh teman-temanku disekolah, kesombonganku semakin menjadi-jadi. Dan sifat kekanak-kanakkanku pun kembali hadir. Dan sekarang lebih parah, karena aku lebih memilih tinggal bersama ibu dan ayah tiriku di rumah yang lebih baik daripada rumah kakek dan nenekku. Kakek dan nenek melepaskanku dengan berat hati. Bahkan, nenekku membantuku untuk membawa perlengkapanku ke rumah ibuku. Melihat itu, hatiku malah semakin tertutup oleh kesombongan dan kebanggaan (Ah, betapa durhakanya aku kepada kakek nenekku). Ternyata tinggal bersama ibu dan ayahku sungguh membuat hidupku lebih buruk. Aku malah dianggap pembantu, disana tak ada pancaran kasih sayang, semuanya harus kulakukan sendiri. Setiap hari aku selalu disuruh ini dan itu oleh ayah tiriku. Tamparan demi tamparan, pukulan, dan cemoohan buruk, sudah menjadi sarapan pagiku sehari-hari. Ayah tiriku amat kasar, bahkan setelah kutahu bahwa dia sudah murtad. Dan memilih untuk menjadi orang yang tidak mempercayai adanya tuhan, MASYA ALLAH !. kehidupanku tercukupi disana, akan tetapi hati dan rohaniku masih kering. Setiap hari aku selalu beradu opini, berdebat mengenai agama. Bahkan tak jarang aku selalu bertengkar dengan ayah tiriku hanya karena masalah-masalah sepele. Ibuku mengadukan semuanya kepada kakekku. Dan dengan tanggap, kakekku langsung memaki dan memarahi ayah tiriku itu, perjanjian demi perjanjian selalu tertulis diatas kertas putih hanya untuk diriku. Hingga seluruh keluargaku menjadi saksi dan membantu kakek untuk menyelesaikan segalanya. Tapi, sikap ayah tiriku semakin menjadi-jadi, apalagi ketika aku memilih berjilbab ketika aku masuk ke SMA tak jarang perilakunya itu semakin buruk padaku, tapi kini lebih berbentuk ucapan-ucapan penghinaan terhadapku juga terhadap ISLAM agamaku, ayah tiriku tak pernah mengerti aku dan tak pernah mau tahu akan diriku, beliau selalu menjadikan pemikirannya yang menurutnya cerdas untuk menghakimi setiap tingkah lakuku. Dan dia tidak setuju dengan perubahanku yang kini jauh lebih berbeda dari dulu. Ditengah-tengah deru pertikaian itu, aku hanya bisa menangis dan menahannya sendiri. Aku masih bisa bersabar atas perbuatannya sedari kecil kepadaku. Parahnya, kakekku, saudara-saudaraku bahkan ibukupun menyalahkanku atas perubahanku menjadi seorang yang menutup aurat sebagai perbuatan yang tak bisa diterima dan tertolak, karena panjang kerudungku, yang melebihi dadaku, pakaianku yang lebih lebar, dan sikapku yang kini menjadi selalu pendiam dan tertunduk. Menyebabkan keluargaku memvonisku sebagai tersangka teroris yang menyebabkan kehancuran keluarga. Dan tepat pada saat itu isu-isu teroris di media massa tengah memanas. Duh Allah. . . inilah puncak konflik yang mengubah hidupku hingga sekarang. Semua keluargaku termasuk kakek dan ibuku sudah mulai tidak memihak padaku, mereka memintaku untuk bersikap biasa dan tidak berlebih-lebihan dalam hal keagamaan, aku dicap sebagai TERORIS dan FANATIK oleh keluargaku. Bahakan mereka selalu mengawasi setiap gerak gerikku, mulai dari tidur, beribadah dan sebagainya, karena mereka khawatir akan diriku yang pada waktu itu tersebar isu-isu pemboman dan kelompok-kelompok sesat. Kakekku selalu menasehatiku, dan menceramahiku tentang bacaan shalat dan do’a-do’a yang jangan aku baca. Karena pada hakikatnya Allah, tak menginginkan hambaNya berlebih-lebihan dalam beribadah. Aku semakin terkungkung. Padahal kala itu, hatiku terasa tenang dan ruhaniku seakan kenyang akan ilmu-ilmu agama yang kuserap dari berbagai pengajian yang aktif aku ikuti. Mengapa ketika aku ingin menjadi orang baik, keluargaku tak mendukungku? Mengapa ketika aku terpuruk, mereka tak datang menanyakan keadaanku?
          Ditengah kegalauanku itu, hanya nenek dan saudara perempuanku saja yang dengan senang hati mendukung dan mengerti aku. (Oh, nenek kau lagi yang selalu ada di sampingku). Aku semakin sibuk dengan aktifitasku kini di sekolah dan diluar sekolah, sehingga waktuku dirumah hanya 8 jam saja. Hal tersebut membuatku terpojok, ketika pilihan dihapakan ketengah-tengah hidupku, pilih keluarga atau aktfitasmu? Aku tak menjawb pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi, aku mencoba membuktikan kepada semua anggota keluargaku, kalau aku berubah karena keinginanku, karena tujuan hidupku, dan atas dasar karena Allah. Ayah tiriku selalu menggangguku, menghinaku bahkan menjelek-jelekkan Islam, agama yang dari sebelum lahir kuanut. Sepulang dari kegiatan di sekolah SMA ku, aku pulang sore, sekitar pukul 17.40, saudaraku sedang sakit dan aku ingin merawatnya, dengan berlari ke tempat obat, dan kusalami ibuku yang tengah makan bersama ayah tiriku di meja makan. Aku hanya mengucap salam dan mencium tangan kepada ibuku, tanpa mempedulikan ayah tiriku yang sedang makan, karena kala itu aku sedang bermusuhan (perang dingin) dengannya. Aku mendapati saudaraku tengah terbaring dan memberikan obat yang kupegang kepadanya. Dari dalam, aku mendengar Ayah tiriku mengata-ngatai ibuku dan melempari beliau dengan piring, sambil membabi buta menghancurkan setiap barang yang ada dihadapanya kearah ibuku. Ayah tiriku menghinaku dihadapan ibu dan kedua dikku yang masih kecil, mengataiku anak setan dan menodongkan pisaunya ke arahku ketika aku datang menghampiri ibuku kedalam. Aku hanya diam tak bergerak ataupun melawan, aku membiarkan ayah tiriku itu melampiaskan kemarahannya di hadapanku. Ibuku terus menerus menangis dan menunjuk-nunjuk wajahku karena semuanya terjadi karenaku. Ayah tiriku terus saja melempar-lemparkan barang-barang yang ada ke hadapan ibuku. Sedangkan aku hanya bisa menahan tangisku dengan sekuat tenaga dan mengosongkan tatapanku, aku pura-pura tak mendengar semua ucapan busuknya, aku juga tak menghiraukan semua yang dikatakan ayah tiriku terhadapku. Hingga ayah tiriku itu pergi keluar, meninggalkan aku, ibu dan kedua adikku di rumah. Tak lama setelah itu ibuku kemudian memarahiku lagi dengan suaranya yang sesenggukan, aku tak tega mendengarnya, aku pura-pura tak mendengarnya. Aku membantu ibuku untuk merapihkan pecahan-pecahan kaca yang tersebar di atas lantai rumah. Seakan mati rasa, aku tak merasakan tetesan darah yang mengalir dari jari jemariku ketika aku memunguti beling-beling kaca. Sedangkan ibuku, masih sesenggukan sambil menyapukan lantai. Kala peristiwa itu terjadi, adzan menggema, membahana, seakan menyeruku untuk beranjak dari tempat itu, dan mulai mengadu kepadaNya. Ibuku menyuruhku untuk berhenti membersihkan sisa-sisa pecahan beling itu, karena ibu sudah tahu, bahwa jari jemariku terluka. Perih yang kurasakan di jari jemariku tak sebanding dengan rasa perihnya jiwa dan batinku, aku hanya bisa menangis didalam hati, kala itu, airmataku menyuruhku untuk bersabar.
          Aku mengambil air wudhlu dan kemudian aku mulai mendirikan shalat. Saat ritual shalat berlangsung, airmataku mulai merembes keluar dari kedua mataku, ingusku pun beringsut turun dan menjadi saksi atas kepedihan dan kesedihanku. Aku merasakan kekhusyukan dalam shalatku waktu itu, akupun merasakan keindahan dan kelezatan iman yang membuncah dalam diri ini. Setelah itu aku mengadukan segalanya kepada Allah SWT. Aku memohon ampunan dan memohon jalan keluar kepadaNya. Perlahan-lahan air mataku terhenti, dan aku mulai bisa menenangkan diriku. Dan tak tinggal diam, aku langsung menghampiri ibuku yang tengah berada didalam kamarnya, kuhampiri beliau, aku meminta ma’af kepadanya, dan aku curahkan segala kesedihan dan kepedihanku kepadanya. Meskipun aku tahu, ibuku masih menentang semua keinginan serta perubahanku kini. Akan tetapi, aku coba untuk istiqomah, dan hadapi semua yang menurutku itu benar, meskipun aku tau, ibuku tak menyukai itu. Sambil menangis aku menciumi kakinya di atas kasurnya, tak terelakkan lagi, kami berdua terus menerus menangis, waktu maghrib ini, kami habiskan untuk saling melepaskan dan mencerca diri masing-masing. Ibuku memberiku 2 pilihan, KELUAR atau TINGGALKAN? Dan harus kuakui, hatiku berkata langsung menuju ke mulutku AKU KELUAR!. Otakku seakan tercengang dan kaget, karena tak seperti biasanya aku mengambil keputusan tanpa pemberitahuan terhadap otakku terlebih dahulu. Aku keluar dari rumah itu, bukan tanpa alasan, akan tetapi, aku memiliki alasan yang menurutku baik, dan alasan itu, hanya aku dan Allah SWT saja yang tahu, biarkan oranglain bertanya-tanya dan menerkanya sendiri. Aku tahu, ini merupakan keputusan yang nekat. Tapi, aku harus mengambil resiko itu. Ibu menyuruhku untuk tinggal sementara di rumah bibiku di samping rumah ibuku, aku terima keputusan itu, dan tak menunggu lagi, aku langsung mengepak semua pakaian,buku-buku,alat ibadah, dan segala perlengkap sekolah dan tetek bengek lainnya, dengan terburu-buru, sebelum makhluk mengerikan yang mulai detik ini aku memanggilnya dengan sebutan ZIONIST itu pulang kerumah. Aku memindahkan semuanya, sendirian ke rumah bibiku, bibiku hanya bisa menyilahkan tanpa banyak bertanya, karena bibiku yang satu inilah yang mengerti aku luar dalam. Sedangkan saudara-saudaraku yang ada di rumahku, hanya bisa bertanya dan saling bertatap dalam kebingungan, aku sadari mereka bingung atas tingkahku, akan tetapi, aku yakin, mereka akan mengerti kemudian harinya.
          Selama 1 bulan kurang, aku tinggal di rumah bibiku, selama itu pula aku seakan mendapatkan ibu baru, mendapatkan pelajaran baru, dan memulai semangat baruku. Bibiku seakan bisa membaca isi hatiku, dan membaca fikiranku. Beliau mengerti akan keadaanku, dan memahami segala tingkah lakuku. Aku sangat senang sekali dengan bibiku, aku selalu menganggapnya sebagai kakakku sendiri, karena sedari kecil kami sama-sama dibesarkan oleh kakek nenek kami. Makanya tak merasa canggung satu sama lain. Terkadang aku merasa sebagai penggangu di dalam rumah bibiku itu, karena, bibiku adalah pengantin baru, dan baru pula memiliki seorang anak perempuan yang amat sangat lucu, dan aku menganggapnya sebagai adikku sendiri. Aku selalu membantu bibiku memasak dan lain sebagainya, pergarakanku tak terlalu lincah, dikarenakan aku tahu, dibalik tembok rumah ini, terdapat makhluk yang kubenci itu. Terkadang kudengar dia berbicara, dan menyuruh adikku, ataupun berbicara dengan ibuku. Tapi, rasa benci dan sakit hatiku ini, berubah mejadi benci dan jijik akan sosoknya. Bibiku pula memiliki perasaan yang sama terhadap ZIONIST itu, aku dan bibiku selalu berbagi cerita dan perasaan. Pamanku baik padaku, beliau tak merasa terganggu dengan kehadiranku ditengah-tengah keluarga yang baru dibangunnya ini. Dan aku merasa senang sekali. Selama aku tinggal di rumah bibiku, banyak saudara-saudaraku yang menginginkanku untuk tinggal dirumahnya, uwa-uwakku berlomba-lomba menawarkan tempat berteduh untukku sekaligus jiwaku yang kosong ini. Aku bingung untuk memilihnya, semuanya terlalu baik untukku. Sebelumnya, aku dimarahi oleh kakekku yang telah tahu masalah ini, aku dimarahi habis-habisan sehingga airmataku ini tak kuasa aku bending lagi, airmataku menjadi saksi penuturan kisahku terhadap kakek dan nenekku, aku menceritakan segalanya, aku curahkan semuanya terhadap mereka berdua, meski sekarang jalan fikir aku dan kakek sudah berbeda, akan tetapi aku mencoba untuk bisa memaklumi, cacian dan makian terus dihadang kedalam ulu hatiku. Namun di lain sisi aku yakin kakekku menyayangiku. Disaat kakekku memarahiku, nenek dengan tenang menenangkanku dan menggenggam erat hati serta jiwaku, menyuruhku tabah dengan setiap gerak gerik matanya, aku terselamatkan oleh kasih sayangnya. Setelah puas dengan hantaman koar-koarnya, kakek menyuruhku untuk beristirahat sejenak dan menenangkan diri di tempatnya, sehingga mau tak mau aku harus meminta izin kepada bibiku untuk menginap dirumah kakek nenekku. Aku merasa terlindungi, tapi aku merasa kian terjepit oleh aksi kakek nenekku yang over protectif padaku. Hidupku luntang lantung, mencari perlindungan kesana kemari, meminta bantuan kepada sanak saudara. Setiap malam aku tak hanya tinggal disatu atap, aku tinggal di atap-atap lain, di rumah-rumah saudara-saudaraku yang lain.
          Hingga pada saatnya aku pindah dari rumah bibiku ke kediaman Uwakku. Aku membawa setiap barang-barangku secara bertahap, dibantu oleh uwakku yang baru pulang dari belahan sumatera. Aku berterimakasih kepada bibiku yang rela menampungku dan barang-barangku selama 1 bulan ini. Di rumah uwakku ini, aku mendapat dukungan penuh, berupa moril dan kebaikan mereka takkan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Tak lama setelah aku pindah kerumah uwakku, nenekku sakit, pada awal-awal nenek sakit, aku jarang menjenguknya, akan tetapi, lama kelamaan aku mulai menemaninya dan merawatnya, itu semua kulakukan atas rasa cinta dan terimakasihku. Rasa gengsi yang terkadang bergelayut, aku tepis, dan kugantikan dengan dzikir, dan istghfar terhdapNya. Penyakit nenek semakin parah, nenekku dirawat dirumah sakit berkali-kali, dan berganti-ganti pula rumah sakit yang didiami oleh nenekku, selama nenek sakit, kami bergiliran menjaganya. Dan aku beruntung selalu mendapat giliran menjaganya. Terkadang aku selalu menyesali diri, karena aku tak bisa berbuat apa-apa jikalau penyakit nenekku kambuh atau semakin memburuk. Lama kelamaan nenekku diperbolehkan untuk pulang, dan aku bersyukur, nenekku tinggal bersamaku di rumah uwakku, dan sekamar pula denganku. Setiap malam, nenekku selalu mengigau dan meronta-ronta karena sakitnya. Tapi, aku tiada daya untuk menolongnya. Dan aku hanya bisa berdo’a kemudian melanjutkan tidurku. Setiap pagi, nenekku meminta diputarkan Video dangdut era 80-an yang beliau suka, Rhoma Irama, adalah salah satu artis dangdut favorit nenekku, dan aku senang ketika aku bisa melihatnya tersenyum kala aku ikut bernyanyi mengiringi lagu-lagu Rhoma yang tengah diputar. Hal yang membuatku panik adalah ketika nenekku terjatuh diatas bangku meja makan, aku yang tengah menyelesaikan tugas kaget dan berteriak minta tolong kepada saudara laki-lakiku yang tengah beres-beres. Saudara laki-lakiku dan saudara perempuanku yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiripun merasa terkejut dengan keadaan nenekku pada saat itu, nenek terus saja memanggil namaku, disaat tak sadarnya, karena stroke yang menimpanya, maka setengah dari tubuh nenekku tak dapat digerakkan seperti biasanya. Aku, uwakku, kedua kakakku, dan yang lainnya yang ada di rumah uwakku, membantu memindahkan nenekku keatas kasur. Aku sedih dengan ketidakberdayaanku, karena aku tak mampu mengangkat nenekku sendirian ke kamar mandi hanya untuk buang air besar. Semuanya uwakku yang menanganinya, bahkan, ketika nenek di rumah sakitpun aku hanya bisa menghabiskan kue-kue dan buah-buah yang diberikan para penjenguk dan urusan nenekku uwak-uwakku yang menangani. Kepadatan jadwal di sekolah, membuatku lelah, ditambah lagi, aku harus bolak-balik dari rumah sakit ke rumahku untuk mengambilkan keperluan nenekku. Karena kekhawatiranku, aku sampai melupakan PR-PR dari sekolah, dan melupakan Organisasi juga Ekskul yang aku ikuti. Hingga pada saatnya tiba, dimana nenekku benar-benar koma, lumpuh dan tiada daya, dimana alunan Al-Qur’an membahana, dimana para penengok berdatangan tiada hentinya. Nenekku sudah beberapa hari koma, bukan di Rumah Sakit, melainkan di rumah ibuku, memang, Zionis itu telah pulang ke alam asalnya (maksudku negeri asalnya) akan tetapi, hawa ganasnya masih terasa olehku, pada pagi buta, aku diajak uwak untuk menjenguk nenekku, pertama aku sempat ragu, karena nenekku berada di rumah ibuku, akan tetapi, aku memberanikan diri, karena aku ingat jasa-jasa nenekku. Pagi sekali kami berangkat, dan kulihat nenekku yang hanya terbaring dan seluruh anggota keluargaku berkumpul mengelilingi kasur empuknya. Terasa indah, dimana para anggota keluwargaku berkumpul untuk mendo’akan kesehatan nenekku. Hari demi hari berganti, kondisi nenekku semakin memburuk, dan jauh hari aku sudah merasakan firasat itu. Sejak aku merasakan firasat tersebut, aku selalu disamping kanannya, melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an, melantunkan dzikir, shalawat dan do’a-do’a demi kesehatan dan kesadarannya. Aku membantu saudaraku yang seorang perawat untuk memasang oksygen atau memeberi makan nenekku lewat selang yang dipasang ke hidungnya. Aku seperti perawat saja, terkadang ku lihat tekanan darah nenekku dengan tension meter, atau membersihkan mulut dan hidung nenekku yang selalu keluar cairan. Sudah terlalu lama nenek tertidur (koma), hingga pada kali itu, aku mengungkapkan perasaanku, uneg-uneg, harapan-harapan, lelucon-lelucon nenekku dulu dan semua kenangan indah yang telah kami lalui bersama. Tanpa terasa aku terus menerus berbicara di telinganya sambil menangis tersedu, aku terus menerus beristighfar dan bershalawat di telinganya, hingga membuat keluargaku yang lain menangis tersedu karena pembicaraanku dan air mata nenek berjatuhan meskipun matanya tetap terkatup. Uwakku hanya bisa memelukku dalam diam, sedangkan yang lainnya terhanyut dalam do’a dan bacaan Al-Qur’an mereka masing-masing.
          Hingga pada saat ajalnya menjemput, aku masih tetap disampingnya, tetap membantu medis, dan tetap membacakan do’a-do’a dan bacaan Al-Qur’an aku merasakan kehadiran Malaikat pencabut nyawa, meski secara tidak langsung, tapi aku yakin Allah telah mempersiapkan skenarioNya dan menyuruh malaikatnya untuk mencabut nyawa nenekku, saat-saat sakaratul maut terjadi, tanpa memperdulikan rasa jijik, aku terus menerus membantu membersihkan cairan-cairan yang keluar dari hidumg nenekku. Sedangkan nenekku sedang berjuang dalam pelepasan nyawanya. Sambil menangis aku menuntun nenekku untuk membacakan syahadat. Dan beruntung nenek bisa mengucapkan lafadz Allah. Dan kemudian pergi untuk selama-lamanya, meninggalkanku, dan yang lainnya. Tangisan membahana, ratapan menyebar luas, dan kesedihan terasa hingga seantero kampungku. Kali ini tangisan pecah, airmata mebanjiri tiap-tiap insan. Kata-kata penyesalan terlontar dari mulut-mulut yang merasa memiliki dosa terhadap nenekku. Termasuk aku yang kali ini hanya bisa memeluk kakekku, meratap dan menenangkan diriku sendiri. Sesungguhnya nenekku merupakan orang yang baik, perhatian, dan peduli terhadap siapapun, penyayang, dan gesit, rajin dan tekun. Innanillahi wainnanilaihi raaji’uun… kini, selain aku kehilangan kebersamaan dengan orangtuaku, akupun kehilangan ibu pertamaku yaitu NENEK . . .
          Aku mengantarkan jasadnya sampai ke tempat terakhirnya, aku hanya bisa mendo’akannya, dan berbuat baik untuknya. Mudah-mudahan Allah menerima keimanan dan semua ‘amalannya di dunia ini. (Amin Ya Allah Ya Rabbal’Alamiin)
          Beberapa waktu aku selalu bersedih. Akan tetapi, kini aku bangkit, aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi anak yang shalehah, cerdas, tekun, ramah, shalehah, dan berprestasi. Hanya segelintir dari keinginanku yang sudah kucapai, tinggal beberapa lagi. Nenek…. Aku akan berusaha, ^0^
          Keinginanku yaitu menjadi orang yang berprestasi di bidang akdemik maupun non akademik, di dalam kelas, di lingkungan sekolah dan lingkunganku nantinya. Aku ingin buktikan pada nenekku kalau aku bisa masuk Universitas di Luar Negeri, dan menjadi Mahasiswi Teladan di Fakultasku. Aku akan mengelilingi dunia yang telah Allah ciptakan ini, menapak tilasi jejak para Nabi dan RasulNya, dan aku ingin juga mengharapkan sosok imamku yang baik dan saleh setia, dan beriman…………
          Ya Allah . . .
Sesungguhnya hamba hanyalah hambaMu yang lemah, yang tak memiliki daya apapun yang hanya bisa menjalani setiap scenario yang telah Engkau gariskan pada setiap hamba-hambaMu. Sekiranya, perjalanan hidupku belum berakhir, akan tetapi baru dimulai semoga limpahan kemudahan dan kasih sayang Engkau berikan kepadaku dalam menapak tilasi jalan panjang hidupku ini, aku berharap semua orang mencintaiku dan menyayangiku dengan sepenuh hati. Terimakasih wahai Allah yang telah memberikanku orang-orang yang dengan setia mendengarkanku, menemani hari-hariku dan menjadi bagian dalam hidupku. Aku bersyukur padaMu Ya Allah.. karenaMu aku bisa menjadi seperti ini, yah …. Meskipun aku masih mencari jati diriku yang sesumgguhnya, mempertajam kemampuanku, dan mengkondisikan sikapku.
          Wahai semua orang yang aku sayangi, terimakasih atas segala kebaikan yang telah kalian berikan kepadaku, semoga Allah membalasnya dengan kenikmatan yang abadi, bukan hanya di dunia, akan tetapi di Akhirat juga. Terimakasih telah mau mengenalku dan menerimaku apa adanya. Juga, ma’afkanlah aku yang hanyalah manusia biasa ini, jikalau aku memiliki salah terhadapa kalian, aku mohon ma’af dan aku mohon permohonan ma’afnya dari kalian semua, sesungguhnya aku adalah manusia yang bergelimangan dosa dan penuh cacat.
          Ya Allah, dari hidupku kebelakang, aku bisa mengambil banyak pelajaran dan hikmah yang beragam dan sangat berharga, aku sangat bersyukur sekali. Aku juga selalu befikir, bahwa pasti banyak sekali manusia di muka bumi ini, yang memiliki peristiwa yang lebih hebat dan menyedihkan mungkin sangat memprihatinkan dari perjalanan hidupku. Akan tetapi, cukuplah aku saja yang mengalaminya, dan mudah-mudahan orang-orang yang lain bisa mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup.
          Ya Allah…
Aku mohon bimbinglah aku kejalanMu yang lurus,
Ajarkan aku cara mencintaiMu
Dan berikanlah aku kekuatan serta ketabahan….
Wahai hidup…
Engkaulah yang selalu menjadi saksi atasku
Wahai kehidupan…
Engkaulah yang selalu hadir di dalam tiap-tiap perbuatanku
Wahai waktu…
Engkaulah yang terus berjalan bersamaku
Wahai kesedihan …
Engkaulah yang selalu hadir dan hancurkan aku
Wahai kebahagiaan …
Datanglah padaku … ^_^

Komentar

Postingan Populer