Keajaiban Dari Surah Yaasin
Al-Qu’ran… merupakan kitab suci umat islam. Akan tetapi,
masihkah kita membacanya? Seringkah kita mengkaji isi serta makna dari setiap
kata yang kita baca? Bukankah Al-Qur;an itu merupakan buku pedoman hidup kita?
Dimana dalam setiap kata serta kelimatnya terkandung “Syifa” yaitu obat, yang
dapat mengobati setiap persoalan dan penyakit yang dialami. Subhanallah… itulah
mukjizat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Rasul kesayangan kita,
Rasulullah Muhammad SAW. Di mana di dalamnya terkandung banyak sekali hal-hal
yang kita tak tahu. Marilah wahai ummat kita sucikan kitab Al-Qur’an dengan
membaca,mengkaji isinya serta mengamalkan segalanya dalam kehidupan kita.
Niscaya Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat-lipat di dunia maupun di
akhirat.
“Keajaiban dari Surah Yaasin”
Sinar mentari menerobos masuk kedalam
kamarku yang gelap karena tertutup gorden, sehingga aku terpaksa harus membuka
mataku untuk menikmati kehangatan sang raja siang ini. Jam dinding tepat
menunjuk pada angka 9, dan itu berarti aku telah melewatkan waktu untuk shalat
subuh.Kubuka perlahan-lahan jendela kamarku dan kuhembuskan nafas dan bersyukur
atas kenikmatan yang masih aku dapat.Tak lama kemudian,terdengar panggilan dari
sang ibu, dengan nada yang tergesa-gesa
“Azizah??? Engkau sudah bangun
nak?”
“Sudah bu,”Jawabku dengan nada
jengkel
“Ayo kita berangkat !”
“Kemana? Ada apa ini? Mengapa
ibu terkesan terburu-buru sekali?”
“Nenekmu,”
“Kenapa dengan Nenek bu?”
“Nenek, terserang penyakit
stroke dan sekarang ia sedang dirawat di rumah sakit”
“Apa?, baiklah bu, tunggu aku 5 menit untuk bersiap-siap terlebih
dahulu”
Aku
kembali kekamarku, mencuci mukaku,
mengganti pakaianku, dan tak lupa mengenakan kerudungku. Kukunci rapat kamar
serta rumah dan kami pun melesat pergi ke Rumah Sakit di pusat kota.
“Assalamu’alaikum, suster
dimanakah ruangan pasien yang bernama Hartati?”
“Wa’alaikumsalam, Ibu Hartati
berada di ruangan nomor 150 di lantai 3”
“Terimakasih suster”
“Ya, sama-sama bu”
Ibuku langsung
bergegas menuju ruang dimana Nenekku di rawat, setelah sampai di ruangan nenek,
ibu langsung menangis dan memeluk tubuh nenekku dengan perasaan khawatir dan
cinta yang mendalam. Kulihat nenekku dari jauh,kedua kelopak matanya menutup
wajahnya tampak pucat dan terbaring
lemah tiada daya lagi seperti dulu, wajahnya yang ketika dulu begitu
mempesona dan cantik, sekarang telah berubah menjadi tua dan berkeriput,
rambutnya yang ketika dulu terjuntai panjang nan indah, sekarang telah berubah
menjadi beruban dan Nampak kusut tak seindah dulu lagi.
“Nenek….”
Bisikku dengan lembut di samping telinganya,
“terasa akuIni Azizah nek,,, Azizah datang buat jenguk nenek, nenek seneng
kan??? Azizah datang sama ibu. Kita kesini karena Azizah sama Ibu sayang sama
Nenek makanya kita langsung buru-buru jenguk nenek,”
Tak
terasa air mataku terjatuh, mengalir deras membasahi kedua pipiku, Ibu langsung
mendekapku dengan perasaan haru sambil berkata,
“Sudahlah Azizah, biarkan Nenekmu istirahat, biarkan ia
mendapatkan ketenangan, supaya Nenek cepat sembuh”
“Baiklah bu, kita tunggu di luar”
“Ya sayang”
Sekian
lama aku dan Ibuku menunggu di ruang tunggu, dengan bibir dan hati yang tak
hentinya berdo’a kepada Allah SWT,
“Ya Allah,
Di ruangan ini terbaring seorang
wanita yang renta dan tua,
Hamba Mengharap Rahman serta RahimMu,
menginginkan cinta dariMu
Dan berharap diriMu mendengar
pintaku,
Wahai Allah, berikanlah kesembuhan
baginya
Lindungilah ia di dalam tidur dan
bangunnya
Ampunilah segala kekhilafannya
Karena sesungguhnya aku
menyayanginya,
Maka dari itu cintailah ia seperti
aku mencintaiMu dan kedua orang tuaku
Aku berharap
kepadaMu, sekiranya aku tau, Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “
Ibuku
tak sengaja mendengar kata demi kata yang aku ucapkan, ia tak kuasa membendung
kesedihannya sambil mendekap tubuhku dengan kedua tangannya yang lembut,
“Oh, ibu,, aku beruntung masih
memiliki dirimu,” Batinku dalam hati.
“Azizah, kita harus banyak berdo’a dan setelah itu kita Tawakkal
kepada Allah ‘Azza wajalla, kita serahkan segalanya, kepada Allah, karena
Dialah yang memiliki rencana”
“Iya bu,”
Waktu
terus berputar, sama halnya dengan dunia ini yang berputar di atas porosnya.
Satu minggu berlalu dan tak ada tanda-tanda dari nenekku mengalami kemajuan
yang berarti. Dan pada minggu pagi
suasana yang tadinya baik berubah menjadi buruk. Kondisi nenekku semakin
memburuk, hingga dokter yang menanganinyapun kewalahan, do’a, do’a dan do’a terus saja ku
limpahkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa. Hingga pada hari dimana Nenekku
divonis oleh dokter 2 bulan. Perih hati ini tak sanggup aku membayangkannya,
aku masih ingin terus berada di sampingnya, iringi hari-harinya, tersenyum di
hadapannya, aku ingin didekap oleh tubuhnya menerima sejuta kasih cintanya,dan masih mau aku dengarkan nasihat-nasihat
bijaknya. Kutengadahkan kedua tanganku sembari berkata
“Ya Allah… Kuatkanlah nenekku,”
Air
mataku ini seakan tak pernah bosan untuk keluar, rintihanku ini seakan tak
pernah habis. Dalam kebingunganku, aku berlari pergi meninggalkan Ibuku yang
kini sendiri menemani Nenek, aku mengitari jalanan gelap dan sunyi kemudian aku
menangis dan berteriak tak henti-henti,
“Ya Allah, bukankah aku selalu berdo’a kepadaMu? Bukankah aku
sering meminta kepadaMu? Tetapi, mengapa Engkau seakan tak pernah mendengar
do’aku? Mengapa Engkau tak segera menyembuhkan kondisi nenek ku ke sedia kala?
Apakah aku salah? Mengapa do’aku belum juga terkabul? Ya Allah……… aku tak
mengerti”
aku jadi
bingung akan keadaanku sendiri, tak tau arah yang pasti. Menyembuhkannya pun
takkan mungkin, karena aku bukanlah sang dokter. Di tengah kegilaanku ini, aku
bertemu dengan seorang pengemis tua yang mungkin umurnya sama persis dengan
nenekku, kedua matanya buta dan kakinya pincang, dia berjalan mendekatiku
dengan tertatih-tatih dibantu dengan tongkatnya,maka kuusap air mataku dengan kedua lenganku
kemudian dengan wajah yang keheranan aku bertanya
“Ada apa kek? Mengapa kakek
menatapku?”
Pengemis
itu tak menjawab,
“Kakek??? Ma’af, apa kakek
mendengarku??”
Kakek
tua itu hanya menatap dan terus menatap kepadaku dengan tatapan yang memelas,
meskipun aku tau kakek itu buta, namun aku merasa ia dapat melihatku. Setelah
itu, kakek itu berkata
“Nak, kau masih muda, dan kaupun masih memiliki jalan yang
panjang untuk memperbaiki kelakuanmu yang buruk, dan kau pun masih dapat bertobat akan kekhilafanmu”
“Maksud kakek apa? Aku tak
mengerti”
“Selama ini yang hanya kau bisa adalah berdo’a untuk kesembuhan
Nenekmu kan? Tapi mengapa kau tak melaksanakan shalat, katika tiba waktunya,
tak membantu anak-anak fakir di sekitarmu, dan kurangnya kau bersyukur kepada
tuhanmu, padahal engkau tau bahwa ia pasti mendengar serta memberikan apa-apa
yang terbaik yang dipintakan oleh hambaNya, mengapa kau meragukan Tuhanmu?
Mengapa kau malah berputus asa karena satu cobaan kecil yang diberikanNya?,
mengapa tak kau bersabar menghadapinya? Mengapa kau tak bersyukur akan nikmat
lain yang diberikanNya kepadamu, jangan pernah kau ragukan itu ! , ingat ini
hanyalah cobaan kecil untukmu, Sabarlah setelah itu Tawakkallah kepadaNya. Bila
memang nenekmu mencapai ajalnya, terimalah, karena itu berarti ia akan
beristirahat dari dunianya dan kembali kepada Allah yang menciptakannya. Kau
malah tertipu oleh vonisan dari sang dokter, padahal kau tau bahwa yang
menentukan hidup dan matinya seseorang adalah Allah SWT ! semua yang hidup
pasti mati, dan yang mati takkan pernah mungkin hidup kembali, kecuali atas
seizinNya, dan sekarang, kau masih memiliki Ibu, akankah kau sia-siakan ia?
Kembalilah lagi mencintai Tuhanmu, gapailah cinta dan kasih sayangNya, karena cinta dan kasihNya takkan pernah habis
dan tetap abadi hingga akhir hayatmu.”
Kegilaanku
berhenti, tubuhku seakan berat mendengar setiap kata demi kata yang diucapkan
sang kakek tersebut, mengapa tidak, mengingat diriku yang kini telah berubah
drastis, dengan jarang melakukan shalat,
puasa, sedekah, zakat, apalagi ibadah-ibadah sunnah lainnya. Kata-kata dari
kakek tua itu, menggugah hatiku, membangkitkan kerinduanku kepada Allah SWT,
tanpa terasa air mata yang sempat terhapus kembali mengalir dan kini semakin
deras,
“Alhamdulillah… Ya Allah, kini aku tahu apa kesalahanku, aku
terlalu egois menginginkan sesuatu dariMu, padahal aku tak sadar akan
kekhilafanku, ma’afkan aku Ya Allah, aku berjanji akan menjadi hambaMu yang
bertaqwa dan mengerjakan segala perintahMu, kembali menggapai rahmat dan ridhoMu,
ma’afkanlah aku, yang sempat melupakanMu, Astagfirullahal’adzim….”
Setelah
menyadari semua itu, aku merasa berterimakasih kepada Kakek tua yang telah
mengingatkanku itu, namun kakek itu telah menghilang dengan sekejap mata,
padahal aku baru saja mendengarkan petuah-petuah indahnya, ditambah lagi aku belum
sempat menanyakan nama serta alamat rumahnya. Hati ini penuh akan Tanya,
“kemanakah sang kakek tua itu pergi?”, di saat hatiku bertanya maka disaat itu
pula hatiku menjawab
“Sesungguhnya
dengan membaca Al-Qur’an hatimu akan menjadi tenang, bacalah Surah-surah di
dalam kitab suci Al-Qur’an setiap waktu di saat gelisah,takut,dan bingung. Dan
bacalah surah Yaasin sang Jantung Al-Qur’an setiap hari karena dengan membacanya,
niscaya kau akan dapatkan hal yang tak terduga”
Sudah lama
aku tak mendengarkan isi hati ku sendiri, maka dari itu setelah mendengarkan
isi dari hatiku, aku berlari menuju rumah menyongsong kerumunan hiruk pikuk di
kota, dengan berbekal kerinduan yang amat kepada Allah, ku terjang sengatan
mentari. Sampai di rumah ku cari-cari
Al-Qur’an kesayanganku dulu yang pernah ku lupakan, Al-Qur’an telah berada di
dekapanku,dengan perasaan rindu aku mencium
dan mendekap Qur’an dengan penuh rasa cinta. Kemudian aku kembali ke rumah sakit untuk menemui Ibu serta
Nenek, aku akan datang dengan cahaya yang bersinar dari hati, jalanku kini
telah terang, tak gelap seperti dulu.
“Ibu, bagaimana keadaan Nenek?’
“Keadaannya semakin parah,
sekarang nenekmu sedang koma,”
“Bolehkah aku masuk ke
ruangannya bu? Aku ingin memberikan sesuatu kepadanya”
“Jangan !!! kau bisa
memberikannya nanti ketika nenekmu telah siuman”
“hadiah ini tak bisa
ditunda-tunda bu, aku harus memberikannya sekarang juga !”
“Hadiah apa yang akan kau
berikan kepada nenekmu?”
“Lantunan ayat suci Al-Qur’an,
Surat Yaasin”
Sekilas,
senyuman hangat tersungging dari bibir sang ibu, dan beliau membiarkanku untuk
masuk. Aku berjalan masuk pelahan kedalam ruangan yang hampa udara ini, perlahan
kubuka halaman Surah yang akan dibaca. Sebelum mulai membaca ku tatap wajah
damai sang nenek, aku mulai membacanya dengan perasaan tenang ,
“A’udzubillahiminassyaithaanirrajiim,,Bismillahirrahmaanirrahim,”
Tak
mengeluarkan airmata,
“Yaasinn, WalQuraanilhakiim,innaka laminal mursaliin,’alashiraatil
mustaqiim,tangziilal’azizirrahiim,litungziraqoumammaaungzira
aaabaauhumfahumghaaafilun”
Jari
jemari nenekpun mulai bergerak, ayat
demi ayat dibacakan oleh ku dengan tartilnya, setelah sampai di akhir bacaannya
yang berbunyi
“Fasubhaanalladzii biyadihii malaakuutu kulli syaiin wailaihi
turja’un…, sodaqallahul’adzim”
Maka telah selesai kuberikan hadiah terbesarku itu kepada nenek,
kemudian kuusapkan Al-Qur’an kesayangan itu kepada wajahku. Betapa kagetnya
diriku melihat nenekku yang ternyata telah membuka kedua matanya sembari
mengelus lembut wajahku, serta mengusap air mata yang tertumpah di pipiku.
Dengan penuh syukur kudekap tubuh nenek dan kucium mesra keningnya yang tua.
“Alhamdulillah nenek sudah
siuman, Alhamdulillah,Azizah seneng banget,”
“A,Az,Azizah, apakah barusan kau
yang membaca Surat Yaasin itu?”
“Iya Nek,benar itu Azizah”
“Alhamdulillah, ternyata kau masih gemar mengaji seperti dulu,
nenek harap kau tak pernah melupakannya,”
“Iya Nenek”
Tak lama,
ibuku masuk ke dalam ruangan dan menangis karena bahagia sedang lantunan syukur
terlontar dari mulutnya, kedua tangannya seakan tak pernah mau lagi terlepas
dari tubuh nenekku. Alhamdulillah……….. aku mulai menyadari akan kehebatan ayat
Al-Qur’an, dan inilah ternyata mukjizat dari salah satu kalam Allah, yang
kualami dari salah satu firmanNya yaitu Surah Yaasin. Subhanallah….
Oleh: Hilda Amalia

Komentar
Posting Komentar