Karunia Syukur
Alhamdulillah,,, terima kasih wahai Dzat Yang Maha
Kuasa Engkau telah mengabulkan do’aku. Sehingga akhirnya aku mendapatkan apa
yang aku mau, yaitu, menjadi seorang pengarang Novel serta buku-buku Islami .
Banyak buku-buku yang telah laris di pasaran dan langsung menjadi “Best Seller”
di setiap toko buku. Karyaku diminati banyak orang sehingga tak ayal kali ini
aku memiliki segudang kesibukan rutin yang harus kujalani, mulai dari jumpa
fans, sharing buku, perkumpulan pengarang, dan sejumlah diskusi mengenai buku
yang telah ku ciptakan. Perkenalkanlah diriku, nama ku Afriani, Nurafriani Al-Zahra
lengkapnya. Aku sangat bersyukur kali
ini, karena meski fisik yang kumiliki tidak sempurna seperti yang lainnya, tapi
aku mencoba untuk membuktikan bahwa meski aku tak memiliki sepasang kaki lagi,
tapi aku masih mampu untuk mencoba unggul layaknya orang normal lain. Ya,
sepasang kaki yang sempurna dulu pernah kumiliki, namun kali ini, kursi roda
inilah yang menjadi pengganti sepasang kaki ku, yang menjadi penopang langkah
serta cita-citaku hingga aku seperti ini.
Dulu,
ketika aku masih kelas X SMA, aku merupakan seorang siswi yang pemalas dan tergolong
cuek dalam urusan belajar. Tak ayal jika para guru tak pernah mengizinkanku
untuk mengikuti kegiatan belajar. Nilai yang kudapat, layaknya berbunyi titi
nada “Do,Re,Mi,Fa” (1,2,3,4). Namun,
alangkah senangnya jikalau diriku pernah mendapatkan nilai 80 dalam pelajaran
B.Indonesia dan Pendidikan Agama Islam. Sejauh ini, hanya kedua pelajaran
itulah yang terlihat menonjol dari diriku. Di sekolah aku dikenal sebagai siswi
yang jail, sehingga kedua orang tuaku selalu di panggil oleh kepala sekolah dan
aku terancam DO. Setelah mendapatkan ancaman itu, aku malah tidak
mengindahkannya dan prilakuku semakin menjadi-jadi, banyak teman-temanku yang
telah ku jaili. Mulai dari kukunci temanku di dalam kamar mandi seharian,
menggantung sepatu temanku yang berulang tahun di tiang bendera serta memeras
uang jajan temanku sebulan penuh hingga temanku jatuh sakit dan mendapat
perawatan medis. Sungguh, amat buruk perilakuku. Kedua orang tuaku sudah renta,
untuk berjalan saja butuh di tuntun, namun apa yang kulakukan pada mereka? aku
malah selalu mengeluh akan kedaaan fisik kedua orang tuaku, aku juga selalu tak
mendengarkan setiap nasihat dan harap pinta mereka, aku tak pernah menanyakan
apa keinginan mereka dan tak pernah mempedulikan mereka. Padahal setiap hari
kedua orangtuaku selalu menantiku pulang dari sekolah di depan rumah, dan
dengan senyum merekah Ibu dan Ayah tak pernah mengeluh akan sikap dan perlakuan
burukku kepada mereka, mereka layaknya batu yang keras, kokoh, dan tangguh,
sulit untuk di hancurkan.
Aku
masih ingat nasihat Ibuku yang hingga saat ini masih terngiang di telingaku,
“Afriani, anakku, kaulah satu-satunya
buah hati ibu dan ayah, maka dari itu ibu dan ayah sangat berharap jikalau
dirimu dapat merubah sikap dan pola fikirmu menjadi seperti ketika kau kecil
dulu, ketika kau masih manja kepada ibu dan ayah yang tak pernah ingin lepas
dari pelukan ibu. Ibu selalu berdo’a untukmu, kasih sayang ibu dan ayah kepadamu
takkan pernah berujung, meski kita terpisahkan oleh ruang dan waktu, jika ibu
dan ayah sudah tak ada di sampingmu lagi nanti, berjanjilah untuk menjadi orang
yang sukses dan solehah di dunia serta di akhirat”.
Air mata ibu bercucuran deras dan ayahkupun ikut menangis
seraya merangkul tangisan ibuku dengan kata-kata sabar. Tapi aku? aku seakan
mati rasa menghadapinya, aku seakan tak memiliki rasa iba dan pintu kasih
sayangku seakan terkunci rapat tak dapat dibuka, meski orang yang mengetuknya itu
adalah kedua orangtuaku. Aku malah pergi dan berteriak kepada ibuku
“Kalimat
itu,,, saja yang selalu ibu ucapkan padaku, malas aku mendengarnya.”
Terdengarlah tangis ibuku semakin keras disana, namun, tak
tersirat olehku rasa cinta kepada ibu dan ayahku. Meski hanya secercah, entah
mengapa hatiku seperti itu.
Menjelang
kelas XII SMA, perilakuku sudah tak dapat di ma’afkan lagi, sehingga sekolahku
tak sanggup lagi untuk mendidikku, aku dinyatakan DO dari sekolah, setelah
kedua orangtuaku mendengar kabar tersebut dari pihak sekolah, mereka bergegas
berangkat ke sekolah, dengan naik angkot, padahal setahuku Ibu dan Ayah sedang
sakit, aku tak habis fikir mereka nekat datang jauh-jauh menempuh perjalanan
jauh dari rumah ke sekolah dengan fisik yang lemah dan usia yang renta. Di
dalam ruang kepala sekolah, Ibu dan Ayahku memohon permintaan ma’af sambil
menangis tersedu-sedu di hadapan para guru. Tak henti-hentinya mereka memohon
supaya sekolah tidak mengeluarkanku dari sekolah, dan mereka menawarkan diri
untuk menjadi jaminannya. Dengan suara tersedu ayahku berbicara kepada kepala
sekolah
“Pak,
ma’afkanlah anak kami. sesungguhnya itu merupakan kesalahan kami dalam
mendidiknya di rumah, kami kurang perhatian kepanya, sehingga ia menjadi
sedikit nakal. Tapi, saya yakin jauh di dalam hatinya yang paling dalam, ia
merupakan anak yang baik dan ia pasti akan menjadi anak yang sukses di kemudian
harinya. Ma’afkanlah anak kami pak”
Ibukupun tak mau kalah, beliaujuga dengan wajah dipenuhi air
mata memohon kepada kepala sekolah
“Pak,
Anak saya baik, setahu saya ia tak pernah melakukan hal yang seperti itu,
berikanlah ia kesempatan sekali lagi, supaya ia dapat membuktikan bahwa ia
seorang anak yang solehah “
Tak
terasa air mataku keluar, tanpa permisi dan izin air mata ini mengalir deras jatuh satu persatu, air mata
yang selama ini kering, sekarang penuh kembali dan ini semua berkat kedua
orangtuaku, di hadapan mereka, aku memohon kepada kepala sekolah supaya membatalkan
pengeluaranku dari sekolah. Dan akhirnya, kepala sekolah memberiku kesempatan
terakhir. Maka, mulai saat itu, aku
melihat senyum bahagia merekah dari kedua wajah orang tuaku. Dan dalam lubuk
hatiku aku berjanji untuk membuktikan kepada mereka, bahwa aku dapat menjadi orang
yang sukses dan solehah, insyaAllah.
Hari-hari
kulalui dengan baik, dan sikapku menjadi semakin lebih baik. Aku jadi
bersemangat untuk belajar, nilai yang kudapatpun tak sejelek dulu, sekolah tak
memperpanjang urusanku, dan aku sudah mulai kembali untuk menunaikan segala
kewajiban ku yang dari dulu telah terbengkalai, yaitu, Shalat, Zakat, Shaum,
dan membaca Al-Qur’an. Aku jadi lebih dewasa dan telah berusaha untuk berubah
jadi pribadi yang diharapkan oleh kedua orangtuaku. Rasa sayangku membludak kepada
mereka, didasari oleh rasa cinta kepada Yang Kuasa. Aku telah mendapatkan
ketenangan hati. Namun, ternyata, Allah memberikanku cobaan untuk menguji
imanku. Musibah ini datang dengan cepat, penyakit yang diderita oleh kedua
orang tuaku semakin buruk, sedang biaya pengobatan aku tak punya, karena mereka
sudah tak dapat lagi bekerja dan akupun belum diwajibkan untuk mencari uang. Maka,
tak lama setelah itu ibu dan ayahku meninggal dunia. Tak kuasa aku menahan rasa
sedih dan perih yang menerkam ke dalam hatiku, padahal aku masih ingin
membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa menjadi anak yang bisa membanggakan
mereka. Tapi,Allah ternyata berkata
lain, kedua orangtuaku dipanggil terlebih dahulu olehNya, apa yang harus
kulakukan? apa yang harus kuperbuat setelah mereka tak ada di sampingku
memberikanku do’a dan tak ada lagi orang yang merangkulku dikala aku tengah
berduka?
Aku tak
memiliki sanak saudara, mereka semua jauh, entah dimana. Hanya para tetangga
saja yang datang untuk membantuku dan menyemangatiku. Rasa terpukul dan menyesal
selalu kurasa hingga sekarang, karena belum cukup waktu yang diberikan untukku supaya dapat membahagiakan mereka,
belum lama aku merasakan kehangatan dalam dekapan mereka, belum lama aku
membuat mereka tertawa.
“Ya Allah….
Mengapa begitu cepat Engkau
menjemput orang tuaku?
Padahal aku inginkan mereka
tetap bersamaku
Ya… Gusti, Ya Lathif, Ya Rahman,
Ya Rahim…
Mengapa tak Engkau biarkan aku saja
yang lebih dulu menghadapMu?
Mengapa tak Kau izinkan aku tuk
penuhi janji itu
YA Allah,,, aku tawakkal
kepadaMu,
Kutitipkan mereka kepadamu,
cintailah mereka, ampunilah merek ,
Sampaikan salam cintaku kepada
mereka
Sesungguhnya aku mencintai
mereka karenaMu“
Di atas pembaringan terkhir mereka aku tak kuasa menahan
tangis, beribu-ribu do’a kupanjatkan untuk mereka selalu terbayang sejuta
kenangan sedari dulu, disaat mereka masih ada. Namun sekarang dihadapanku hanya ada dua jasad suci yang
terkubur oleh tanah.
“Ayah, Ibu, ma’afin Afriani,
ma’afin afriani. Afriani janji bakalan jadi anak yang sukses dan solehah, buat
ayah dan ibu, Afriani ucapin makasih sebesar-besarnya karena kalianlah Afriani
mendapatkan sejuta pelajaran yang terpetik untuk kehidupanku, ma’afin Afriani
ayah, Ibu, sekarang Afriani sendiri, bener-bener sendiri. Tapi, Afriani akan
membuktikan kalo afriani bisa, bisa jadi apa yang diharapkan sama ayah dan ibu.
Afriani minta do’anya ya Ibu, Ayah.”
Hari
demi hari, bulan demi bulan terus bergulir dan sekarang aku telah lulus dari
SMA dengan nilai yang baik. Tak lupa aku selalu bersyukur kepada Allah, dan
memanjatkan do’a kepada kedua orangtuaku yang entah sedang apa mereka disana.
Namun, sejuta fikiran terus berkecamuk dalam diriku, setelah aku lulus, mau
kemanakah diriku??? sedangkan akupun tak memiliki uang yang cukup untuk kuliah,
warisan yang ditinggalkan kedua orangtuaku hampir habis. Ditengah kebingungan
itu, aku mulai mencari pekerjaan, berlari kesana kemari, tersengat oleh
teriknya mentari, terguyur oleh hujan dan terdampar dalam sejuta kebingungan,
karena aku bukanlah seorang yang berilmu tinggi, ditanganku hanya ada ijazah
SMA, bukan S1 atau S2. Tak ayal jika setiap perusahaan yang kudatangi menolakku
dengan cara yang kasar. Tapi, aku yakin pertolongan Allah selalu datang.
“Mungkin ini masih belum waktunya,
coba aku cari lagi di perusahaan lain. Bismillahirrahmanirrahim” Batinku dalam
hati
Hal
yang tak terduga pun terjadi kepadaku, ditengah kegalauan hati, aku tertabrak
oleh mobil kijang yang melaju dengan kecepatan tinggi ketika aku sedang
menyeberang. Para penduduk sekitar membawaku yang tengah sekarat ke rumah sakit.
Sakit yang tak tertahankan melanda diriku, rasa sakit yang ternyata memang
nyata kualami. Aku koma selama 2 hari di rumah sakit. Dan pada hari ketiga aku
siuman, dan tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah Sang Maha Pencipta,
karena Allah masih memberikanku nafas untuk hidup. Namun, satu yang kusayangkan,
kedua kakiku diamputasi karena menurut dokter kedua kakiku patah dan sulit
untuk dipasang kembali, maka dengan terpaksa pihak rumah sakit memotong kedua
kakiku. Air mata mulai membanjiri wajahku, dan di fikiranku terbayang sejuta kemungkinan-kemungkinan
buruk di masa depan yang akan terjadi. Kutepis satu persatu bayangan itu, ku
berdzikir tiada henti dan menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.
Teringatku akan bayangan kedua orang tuaku berada di hadapanku, sambil
tersenyum lembut dan membelai halus kepalaku. Tangisku semakin menjadi-jadi dan
tiada henti, sehingga mataku bengkak . Aku beruntung karena orang yang
menabrakku bertanggung jawab dengan membayarkan semua biaya rumah sakit,
operasi serta kuliahku. Rasa syukur, terus ku panjatkan.
“Alhamdulillah,,,
Alhamdulillah,,,“
Waktu
terus berjalan dan keadaanku semakin membaik, aku mulai masuk kuliah jurusan
Agama, karena aku ingat pesan orangtuaku yang menginginkanku hidup baik dalam
agama yang indah yaitu, Islam, maka dari sinilah aku memulai hidup baruku, pada
masa kuliah. Tak mudah memang pada awalnya menjadikan kursi roda sebagai kaki
dan pengantar raga ini. Tapi, seiring berjalannya waktu akupun mulai terbiasa.
Cemoohan dan gunjingan terus terdengar oleh kedua telingaku, berbagai tatapan
iba, benci, jijik, dan sebagainya selalu kudapatkan dari teman-teman kuliahku.
Meskipun keadaanku seperti ini, namun aku selalu berusaha untuk bersabar
diiringi dengan bersyukur, dan mempertebal keimanan hati dan diri. Aku mulai
memanfa’atkan ilmu yang kudapat semasa SMA, yaitu, tentang pelajaran Agama dan
Sastra, dari situlah aku mulai mengembangkan diri untuk bergelut di bidang
menulis dan mengarang Novel serta buku-buku Islami. Di dalam hidup ini pasti
tak ada yang namanya sempurna. Sehingga aku merasa pesimis jika karya yang ku
ciptakan kurang memuaskan. Dari kesalahan dan kekurangan yang kuperbuat,
terbitlah sebuah Novel dan Cerita Islami, yang sekarang ini sedang naik daun,
karyaku menerobos angka penjualan tertiggi, bahkan Novelis yang lebih senior darikupun jauh tertinggal
dariku. Subhanallah…. Ternyata tak sia-sia usahaku selama ini. Bahagia hatiku
kali ini, menjadi orang yang sukses dan akupun menjadi Manager di sebuah
perusahaan penerbitan buku. Ternyata perubahan kecil yang kulakukan membuahkan
hasil yang indah dan tak terhingga besarnya. Tak lupa pula peran serta kedua
orang tuaku dalam membimbingku. Dan kasih sayang serta hidayah dari Allah yang
selalu kurasakan. Alangkah indahnya hidup ini, bila kita melakukan segalanya
atas dasar rasa cinta karenaNya.
Dan
sekarang lihatlah aku, Ayah, Ibu, di atas panggung ini aku berdiri, bukan
dengan kedua kaki layaknya orang normal yang lain, ataupun oleh kaki palsu.
Melainkan dengan kusri roda yang sudah tua pemberian orang yang baik hati. Dan
sekaranglah telah kubuktikan bahwa diriku kepada kalian, wahai orang tuaku yang
berada disisiNya, bahwa aku bisa menjadi orang yang sukses dan anak inshaAllah
solehah.
“Wahai Ayah, Ibu, dengarkanlah syair cinta
dariku:
Telah ku buktikan pada kalian
Telah kuusahakan semuanya
Semua atas kuasaNya, yaitu Allah
SWT
Sepotong janji yang dulu
tercipta
Hari ini ku ikrarkan semuanya
Lihatlah aku! Aku bisa, aku
berhasil
Alhamdulillah…
Smoga kalian berdua selalu
tersenyum, di balik tirai-tirai cinta
Di SurgaNya. “
Karunia syukur kudapatkan tiada henti. Kasih
sayang dari Allah, melebihi cinta kasih kedua orang tuaku. Kali ini telah
kurasakan semuanya, bahwa dalam hidup, pasti ada aral dan cobaan yang menanti
untuk mengetahui seberapa tebal keyakinan dan rasa syukur kita kepadaNya.
Karya
: Hilda Izdha ‘Amalia

Subhanallah manfaat syukur,dan qona'ah sangat luar biasa... :)
BalasHapusini cerita fiktif atau non fiktif neng? ? :)
Syuqron,,
BalasHapusItu pengalaman ana, :)