Istiqomah


Istiqomah

“Aduuuh… udah jam 7 lebih 25. 5 menit lagi masuk kelas. Haulah mana ya??? Koq dia belum nongol juga?? Ya Allah,,, kemana Haulah???”
Ding..Deng,,,,Dong…
                “Masya Allah udah bel, Haulah ma’af ya ana duluan masuk kelas” ujarku dalam hati
Aku memasuki kelas dengan berlari berharap guru yang mengajar terlambat pula. Tak lama pula datanglah guruku bersama Haulah di belakangnya.
“Alhamdulillah,,,Haulah kau tidak terlambat, sepulang sekolah nanti aku akan menanyakan kepadanya mengapa ia terlambat tadi” Bisikku dalam hati
Teng..Tung…Tong…. bunyi bel pulang sekolah berbunyi, sorak sorai terdengar di seluruh penjuru sekolah. Mayoritas teman-temanku di sekolah lebih menyukai bel pelajaran usai dibanding dengan pelajarannya itu sendiri.
“Haulah??? Mengapa tadi kau datang terlambat?” Tanyaku dengan rasa penasaran
“Maafkan aku ya Aisyah, sebenarnya aku barusan tidak terlambat, akan tetapi guru BK memanggilku tadi” Jawab Haulah dengan wajah yang tertunduk
“Memangnya kenapa tiba-tiba kau harus di panggil ke BK? Setahuku kau tak pernah melanggar satupun peraturan di sekolah ini”
“Bukan itu..”
“Lalu?”
“BK dan sekolah ini melarangku untuk mengenakan Jilbab dan menutup auratku ini”Terang sahabatku dengan wajah yang semakin tertunduk lesu
Aku diam seribu bahasa, tak mengerti akan maksud perkataan sahabatku itu, tak tahu apa arti dari Jilbab dan Aurat. Aku juga tak mengerti mengapa sahabatku ini selalu mengenakan kain panjang di kepalanya? Sehingga aku tak tahu apa yang ada didalam kepalanya,panjang rambutnya bahkan untuk sekedar melihat daun telinga dan lehernya. Aku masih bertanya-tanya didalam hati. Dalam penampilan, sahabatku ini berbeda sekali dengan semua anak-anak di sekolah ini termasuk diriku juga yang sangat jauh berbeda sekali dengannya. Tutur katanya santun dan pribadinya sopan. Otaknya cerdas, tapi dia tak pernah sombong. Banyak kejuraan yang telah ia berhasil rebut, dan dialah satu-satunya yang aku anggap sahabat. Karena insiden MOS SMP tahun lalu yang mengharuskan sahabatku ini menangis bahkan meronta kesakitan. Aku menolongnya dari perbuatan-perbuatan kakak kelas MOS kami yang dengan kasarnya menjambak kain panjang sahabatku itu menariknya di sepanjang koridor dan membenturkannya ke tembok kelas sehingga darah segar mengucur dari pelipisnya. Teman-temanku yang lain tak mampu menghalau perbuatan buruk kakak-kakak kelasku yang kasar itu. Aku berlari menarik sahabatku menjauh dari kakak kelasku itu, terdengar jelas teriakkan-teriakkan kakak kelasku ketika kami pergi. “Heh! Aisyah, singkirkan tanganmu dari wanita teroris itu! Nanti bisa-bisa kau ikut-ikutan jadi teroris!”.
Tapi aku terus menggenggam tangan lembutnya menghindar dari cacian dan perlakuan buruk dari kakak kelas itu.
                “Kau tidak apa-apa kan?”Tanyaku dengan nada yang lembut
                “Iya, aku baik-baik saja”Jawabnya dengan lembut juga
                “Sini, biar aku bersihkan darah dan lukamu”
                “Apa kau tidak malu menolongku?”Tanyanya dengan wajah yang tertunduk sedih
“Untuk apa aku malu? Toh menolong itu harus pada siapapun kan? Menurutku menolong itu sebuah kewajiban”
“Terimakasih banyak yah,”
“Iya sama-sama”
“Emh, maaf  siapa namamu?”
“Panggil aku Aisyah. Dan kau?”
“Panggil aku Haulah. Lengkapnya Haulah Nurjannah”
“Wah, nama yang indah. Baiklah Haulah, sekarang kau harus mau jadi Sahabatku”Pintaku dengan wajah yang bahagia
“Tanpa dipintapun aku akan menjadi sahabatmu”Jawab Haulah dengan senyumnya yang indah dan menyejukkan hati
Itulah awal pertama kalinya kami bertemu, dan itulah awal dari persahabatan kami yang hingga sekarang masih tetap murni dan utuh. Sekarang kami telah menginjak kelas XI di sebuah SMA Favorit yang berada di jantung Kota. Semenjak SMP Haulah memang sering diejek, dan disebut-sebut sebagai teroris dan penganut aliran sesat. Mereka selalu menyalahkan kain panjang yang selalu dikenakan oleh sahabatku itu. Dan akulah yang selalu membelanya, meskipun aku sendiri belumlah mengerti akan apa yang dikenakan oleh sahabatku ini. Karena aku sendiri tidak mengenakannya. Aku membiarkan rambut panjangku tergerai tanpa harus ditutup oleh kain itu. Pakaiankupun stylish dan cenderung gaya remaja-remaji abad ini. Sudah beberapa tahun aku bersamanya, akan tetapi dia jarang sekali bahkan tak pernah menceritakan masa lalunya ataupun keluarganya. Dibandingkan diriku yang selalu membawanya main ke rumahku dan bibirku yang sering menceritakan tentang masa laluku padanya. Semakin lama aku semakin penasaran, akan tetapi aku mencoba untuk membiarkan semua rasa penasaran itu berpendar dan lambat laun aku lupakan. Akan tetapi kali ini berbeda, aku benar-benar sudah tidak tahan ingin tahu yang sebenarnya darinya sendiri. Dan pada jam istirahat ini, aku harap aku dapat jawabannya.
                “Aisyah?” Tanya Haulah yang tiba-tiba mengagetkanku
                “Iya, Haulah? Ada apa?” Jawabku dengan sedikit kaget
                “Boleh aku bertanya?”
                “Boleh. Sangat boleh”
                “Apakah agamamu Islam?”
Aku tidak langsung mejawab pertanyaannya, aku malah membayangkan diriku sendiri dan mengingat-ingat maksud dari kata Islam itu.
“Baiklah, maaf aku bertanya apa agamamu. Tapi, aku suka dengan namamu “Aisyah” itu adalah nama dari salah satu istri Rasulullah SAW. Siti Aisyah lengkapnya, beliau sangat cerdas umurnya masih muda saat menikah dengan Rasulullah 9 Tahun, makanya Siti Aisyah hafal beribu-ribu Hadist. Selain cantik beliau juga istri yang paling disayang oleh Rasulullah. Makanya aku senang sekali memanggil namamu Aisyah”
Sontak aku teringat akan bayang-bayang pelajaran Agama ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar.
“Aisyah, mungkin selama ini kau terus menerus membelaku, setia berada disampingku, dan selalu menghiburku. Sejujurnya aku sangat senang sekali karena selama ini, semua orang menjauhiku. Memang sulit hidup ditengah-tengah lingkungan yang hedonis. Memang sulit aku beradaptasi dengan lingkungan yang berfikiran Liberal. Padahal kan sebenarnya aku merupakan korban dari cara pemikiran mereka”
Haulah mulai menangis. Entah mengapa aku tak bisa membuka mulutku untuk berbicara atau menenangkannya. Karena aku sendiri tak faham akan maksud pembicaraannya. Kuberanikan diri ini untuk bertanya pada Haulah.
                “Haulah?”
“Aisyah… Aku ini adalah sebatang kara. Ayah dan Ibuku meninggal karena dibantai oleh para penjahat yang ingin menjatuhkan perusahaan Ayah Ibuku. Mereka membunuh kedua orangtuaku dengan sadis dan mengambil alih perusahaan kedua orangtuaku, mereka bakar rumahku tanpa sisa. Waktu itu aku berhasil selamat karena kedua orangtuaku menyembunyikanku di ruang bawah tanah. Aku hanya bisa berteriak dan menangis sendiri. Sebelum akhirnya aku diselamatkan oleh petugas pemadam kebakaran dan aku diasuh di panti asuhan. Di panti asuhan itu,aku dirawat dan dibesarkan akan tetapi aku masih merasakan kesedihan yang mendalam atas peristiwa yang menimpaku. Meskipun penjahat-penjahat itu sudah dihukum kurungan dengan waktu yang sangat lama. Akan tetapi, perasaan benci ini selalu bercokol di dalam hatiku. Akan tetapi, aku selalu mengingat perkataan Ibuku yang menyuruhku untuk terus menutup auratku dengan menggunakan jilbab dan pakaian yang baik. Dan Ayahku selalu menasehatiku supaya aku menjadi pribadi yang tegar dan istiqomah dengan apa yang telah aku jalankan/pegang. Aku ingat semua itu, aku selalu mematri kata-kata mereka didalam hati. Semua kejadian buruk itu terjadi disaat aku masih SD sebelum akhirnya aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu ketika Masa Orientasi Siswa SMP. Aku tahu, betapa sulitnya istiqomah di tengah-tengah lingkungan yang borjuis ini. Aku sadar, aku satu-satunya siswi yang menutupi aurat di sekolah. Tapi, ini demi kabaikanku yang telah Allah SWT perintahkan kepada ummatNya. Mungkin kau selalu bertanya-tanya akan diriku, dan inilah kenyataan dariku untuk menjawab rasa penasaran yang bercokol di hatimu”
Haulah semakin menangis tersedu-sedu. Sekarang aku tau jawabannya, tapi aku tak menyangka dia setegar dan sekuat ini. Dia masih bisa tersenyum dan menyimpan rasa sakit itu sendiri. Malahan, dia selalu diejek dan di perlakukan tidak baik. Tapi, Haulah tak pernah sedikitpun menyimpan rasa dendam dan marah di hatinya. Aku rangkul Haulah yang tengah bersedih, aku usap air matanya yang jatuh. Dan Haulah meminta maaf kepadaku atas kesalahannya yang tidak menceritakan ihwal dirinya kepadaku. Belpun masuk pun berbunyi “Ting Tong Ting Tong Ting Tong”. Kami langsung bergegas untuk masuk ke kelas. Haulah masih belum menghapus jejak airmata di pipinya. Sehingga tak ayal teman-teman sekelas kami mengejeknya dengan hal-hal yang tidak-tidak. Tapi, Haulah hanya membalasnya dengan senyum tabah dan menyumpal telinganya dengan irama gembira. Aku salut padanya, aku salut akan ketegarannya. Ketika pulang sekolah, aku mulai banyak bertanya padanya
                “Haulah, aku ingin mengenal Islam”
Aisyah hanya tersenyum dan merangkulku dengan penuh kasih sayang
“Alhamdulillah… baiklah, aku akan membantumu untuk mempelajarinya, meskipun aku sendiri masih belum mampu untuk bisa Kaffah”
“Sebelumnya, aku ingin tahu dulu Jilbab itu apa? Istiqomah itu apa? Dan aurat itu apa?”
Dengan tersenyum, Haulah menerangkannya secara detail
“Jilbab itu adalah kain panjang yang berbentuk lorong. Yang sekarang aku kenakan ini, Istiqomah itu adalah “Berpegang Teguh”. Aurat itu merupakan tubuh laki-laki atau perempuan. Itu adalah arti umumnya Aisyah”
“Waaah.. aku amat malu sekali padamu Haulah”
“Mengapa kau harus malu?”
“Kau bisa seperti ini, bisa seistiqomah ini meskipun yang lain selalu mengucilkan dan memperlakukanmu dengan kasar. Akan tetapi aku?”
“Aisyah… Ini semua adalah hidup, tanpa cobaan Allah SWT tidak akan mengetahui tingkat keimanan seseorang. Allah juga tidak akan tau seberapa besarkah rasa cinta kita padaNya bila kita tidak dicoba. Nah, dengan cobaan ini, kualitas hidup kita akan lebih baik. Karena kita semua pada akhirnya akan kembali padaNya. Oia, kamu tau Keimanan kan?”
“Iya aku tahu. Sejujurnya, aku jarang sekali bahkan tidak pernah Shalat, apalagi menutup aurat kau tahu sendiri itu kan? Membaca Al-Qur’an pun aku masih belepotan. Shaum di Bulan Ramadhan pun hanya beberapa minggu saja. Aku lupa tata cara berdo’a dan hal-hal kecil lainnya yang sebenarnya sudah aku fahami sedari kecil.”
“MasyaAllah.. Tak apa-apa wahai sahabatku, Allah Maha Pengampun, selama kita mau berhijrah dari cara hidup kita yang seperti ini kepada kehidupan yang islami. InshaAllah, semuanya akan menjadi lebih baik. Jangan sungkan-sungkan bertanya pada siapapun jikalau kamu kurang mengerti akan agamamu. Dan mulai dari sekarang aku akan menjadi guru Agamamu.. hehhehe ^_^”
“Siap Ibu guru” Jawabku dengan wajah yang jauh lebih cerah ceria dari biasanya
Sedikit demi sedikit aku bisa mengubah penampilan, dan cara pandangku. Dan kini, tidak hanya Haulah saja yang memakai Jilbab ke sekolah, tapi aku juga ikut memakai jilbab. Semua mata tertuju pada kami, tapi aku siap menerjang semuanya, karena aku dan sahabatku akan selalu bersama. Lambat laun teman-teman dan guru-guruku menghiraukan kami dan membiarkan kami untuk menutup aurat kami. Setelah kepala sekolah di SMA kami diganti menjadi Pak H.Andi. Beliau merupakan seorang haji, dan Kepala Sekolah dari Dinas pindahan asal Kota Garut. Pak Haji Andi menambahkan satu poin peraturan yang berbunyi “Semua Siswi di SMA ini diwajibkan untuk mengenakan Kerudung atau Jilbab dan laki-laki diwajibkan untuk mengenakan seragam panjang”. Dan Alhamdulillah ketika kami menginjak kelas XII, semua siswa dan siswi di sekolah kami menutup aurat-aurat mereka. Kami berdua juga membuat Ekskul Remaja Mesjid, yang sekarang Ekskul ini menjadi Ekskul wajib di sekolah. Aku semakin istiqomah dengan apa yang telah aku pilih ini. Islam, adalah agama yang indah.
                “Hey Aisyah! Aku amat sangat senang sekarang”
                “Iya aku juga”
“Alhamdulillah, akhirnya Allah membalas semua pengorbanan kita dan mengubahnya menjadi seindah ini”
“Iya, syukurlah. Aku juga amat sangat senang bisa menjadi sahabatmu”
“Iya… mudah-mudahan persahabatan kita ini bisa sampai ke Jannah-Nya”
“Amin… Semoga malaikat-malaikat di samping kita mencatat do’a kita”
“Amin..”
“Aisyah… setelah lulus nanti kita dari sekolah ini, kau mau meneruskan kemana?”Tanya                Haulah
“Aku? InshaAllah aku akan melanjutkannya ke Universitas di Bandung Jurusan Hubungan Internasional, supaya aku bisa memperkenalkan  Islam ke seluruh dunia, kalau Haulah?”
“Wah… Subhanallah, mudah-mudahan keinginanmu tercapai. Aku? Kalau aku, sebelumnya aku mau minta maaf padamu jikalau aku pernah memiliki salah padamu. Karena, setelah ini aku akan pergi”
“Hah?? Pergi? Kamu akan pergi? Kemana?”
“Sebenarnya..”
“Apa?? Ayolah jangan membuatku penasaran!!”
Kemudian Haulah merangkulku, dan berteriak ditelingaku
“Aisyah!!! Alhamdulullah aku dapat beasiswa ke Cairo-Mesir” Jawabnya dengan tawanya yang nyaring
Baru pertama kali aku melihatnya sebahagia itu, aku sangat senang sekali mendengarnya.
“Wah hebat Haulah.. Semoga Allah memudahkanmu.. jangan lupa yah,, nanti kabari aku dari sana”
“InshaAllah…”
Kami hanya bisa menatap langit yang biru hari itu, seperti langit dan awan-awan pun ikut bahagia seperti kebahagiaan yang tengah kami rasa kali ini. Semuanya seperti mimpi, bergulir dan terjadi begitu cepatnya. Seakan tak kenal lelah, kami hanya bisa berdo’a untuk kebaikan kami di suatu saat nanti.
                “Hey Haulah…”
                “Ada apa sahabatku?”
                “Aku hanya ingin berkata, bahwa sesungguhnya bidadari itu ada di bumi”
                “Masa?”
                “Dimana? Kau tau dari mana?”
                “Hehehehe… ada deh..”
                “Yah.. Ayolah Aisyah.. aku ingin tahu, beri tahu aku yah!!?? Ayolah …!”
                “Emh.. apa yah?? Hehehe”
                “Aih, dasar Aisyah!” Candanya sambil mencubit pipiku.
Aku hanya bisa berkata dalam hati, bahwa bidadari itu adalah kau, Haulah.Sahabatku. ^_^  

Komentar

Postingan Populer