Bias Cinta Kala Senja
“Bias Cinta Kala
Senja”
Aku hanya bisa
memandangi lautan luas yang ada di hadapanku. Aku hanya bisa menatap penuh
harap ke angkasa yang membisu melihat tingkahku. Jemariku seakan tak
henti-hentinya menulis di atas pasir nan putih, menulis namanya yang indah,
yang hingga sampai saat ini aku belum bisa bertemu dengannya. “Ayah…” Oh… Sungguh
kata yang indah, kata yang hanya bisa kudendangkan bersama deburan ombak
pantai, kata yang hanya bisa kuucapkan dikala dinginnya malam menusuk pilu dan
menerawangi kerinduan yang membuncah di dalam sukmaku. Aku terduduk lesu sambil
menatap ombak yang berlarian. Sekali lagi aku hanya bisa menatap kosong kearah
laut ini. Matahari mulai bersembunyi kedalam pelukan malam, akan tetapi aku
masih belum jua bisa melihat perahu Ayahku.
“Nak?? Tidakkah kau bosan menatapi laut ini
sepanjang hari?” Tanya ibuku sambil memelukku dari belakang dengan penuh cinta.
“Aku kangen ayah bu...”
“Ayahmu
pasti akan pulang Yolanda” Ibu mencoba menghiburku dengan ucapan yang sama
“Mana
buktinya bu? Hingga sekarang ayah masih belum kembali? Apakah ibu tidak
mengkhawatirkan ayah yang telah sekian lama belum jua kembali?” ratapku sambil
memukulkan tanganku sendiri pada pasir yang menjadi saksi akan kesedihanku.
“Tentu saja ibu khawatir nak, hanya
saja...”
“Hanya
saja apa bu? Ibu hanya bisa berkata bahwa ayah akan pulang! Ayah akan pulang!
Tapi ibu sendiri malah tidak merasa khawatir sedikitpun pada ayah” aku menangis
tersedu.
“Dari
mana kau tahu bahwa ibu tidak mengkhawatirkan ayah? Bahkan manusia sehebat
apapun takkan pernah bisa meraba masuk kedalam hati ibu”
“Lalu? Mengapa ibu bertingkah
seperti itu?” Tanyaku dengan nada yang parau.
“Anakku,
ibu bersifat seperti ini bukan karena ibu tidak mengkhawatirkan ayahmu, akan
tetapi karena ibu mempercayai ayahmu. Kau tau anakku jikalau dua insan yang
saling mencintai bersatu dalam ikatan yang suci, bersiaplah untuk menjalani
lika-liku hidup ini secara bersama-sama. Dan kau tau anakku, apa kunci untuk
menjaga kemurnian cinta?”
“Aku tak tau, Apa itu bu?”
“Kuncinya adalah Cinta, Setia, dan Percaya” Jawab
ibuku sambil menatap dalam kedua bola mataku. Kemudian ibuku menangis.
Aku memeluk tubuhnya
yang kini kian renta kupandangi wajahnya sekali lagi, “Masih cantik” Ungkapku
dalam hati, hanya saja garis-garis di wajahnya membedakannya kini dengan ketika
beliau masih muda dulu.
“Anakku…
Ada seorang pria yang datang untuk menikahi ibu beberapa minggu yang lalu,
padahal pria itu tahu bahwa ibu masih menjadi istri ayahmu. Mungkin karena pria
itu mengira bahwa ayahmu telah tiada, maka ia melamar ibu. Akan tetapi, ibu
menolaknya karena ibu masih mencintai ayahmu dan mencoba berusaha untuk setia
pada satu hati. Meskipun terkadang ibu selalu berprasangka buruk akan keadaan ayahmu
yang sudah beberapa tahun tiada kabarnya. Maka, ibu mencoba menguatkan diri dan
terus percaya padanya. Nak, suatu hari kau akan mengerti bahwa buah dari
kepercayaan adalah kebahagiaan”
Ibu berbicara panjang
lebar kepadaku. Dan aku merasa tenang mendengarnya. Kukecup pipinya yang basah
oleh airmata kerinduan. Ya, kerinduan yang mendalam akan satu sosok yang sama
denganku, pria yang membanting tulang demi kehidupan kami, “Ayah”.
“Seandainya
jika pasir ini adalah kertas dan air laut adalah tinta penanya, maka akan
kutulis beribu-ribu kata cinta dan kerinduanku yang mendalam pada sosok ayahku
yang berada di samudera luas sana” Batinku dalam hati.
Dan
kamipun berjalan pulang.
Pagi yang cerah datang
meyambut hariku yang kini menjadi lebih baik. Angin pagi membelai lembut jiwaku
yang selama ini kosong, iringan kicau burung mendendangkan irama merdu dan
menenangkan hatiku yang beberapa minggu lalu hampa. Biasanya, katika pagi
menjelang aku berlari melintasi waktu bersama harapanku di bibir pantai. Akan tetapi
sekarang, sepertinya ibukulah yang mencontek kebiasaanku itu. Wajahnya yang tua
memandang luas kearah lautan biru, bibirnya bertasbih memohon dan berdoa supaya
sang suami bisa kembali menemani hari-harinya yang kelam jika tanpanya. Hari
demi hari, ibu melakukan hal itu bahkan yang lebih buruknya, ibu mulai pulang
pada sepertiga malam disaat biasanya ibu bermunajat dan menangis penuh
pengharapan. Aku merasa bersalah pada ibuku, karena perkataankulah ibu menjadi
gila rindu pada ayah.
“Ibu…?”
tanyaku sambil menghampiri tubuhnya yang kian menggelap karena tempaan sinar
matahari. Ibuku tak bergeming dengan suaraku, beliau masih saja menatap kosong
kearah ombak yang melambai.
“Bu, maafkan Yolanda. Karena Yolanda, ibu jadi berlarut-larut
dalam kesedihan pada ayah” ungkapku sambil menghirup angin laut yang hangat.
“Kau
tidak bersalah anakku. Tak ada yang harus disalahkan dan untuk disalahkan.
Biarkan semua ini berjalan bersama waktu, seperti ombak yang kian menari
bersama buih-buih juga pasir dilautan, sesering apapun ibu menangis dan sekuat
apapun ibu mencoba menahan rasa rindu ini. Pada akhirnya ibu akan pasrah jua. Tapi,
rasa percaya ini takkan pernah luntur meski waktu menyiksa ibu untuk
melupakannya”
Sekali lagi aku
mendekap tubuhnya yang renta. Ibuku kini tersenyum, tidak menangis seperti
beberapa minggu yang lalu.
“Bu, mari kita jual jaring-jaring ikan yang sudah
kita buat bersama di pasar. Bukankan sudah 2 bulan kita tidak berjualan?”
“Baiklah nak, ayo kita berangkat” Sambil
membersihkan pakaiannya dari butiran pasir.
Sampai dipasar, kami
menjajakan jaring ikan kami kepada para nelayan yang biasanya mempersiapkan
peralatan untuk melaut sebelum senja tiba. Dan ini adalah kesempatan baik
untukku dan ibuku menjualnya. Hasil yang kami dapat tidak sebanding dengan proses
pembuatan jaring itu sendiri. Tapi, kami mencoba terus bersyukur akan semua
ini. Waktu telah menunjukan pukul empat sore dan ini adalah saatnya bagi aku
dan ibu mencari telur penyu di bibir pantai untuk dibiakkan. Sampai dibibir
pantai, aku melihat perahu yang berlayar kearah kami berdiri, sambil melambaikan
tangan nelayan di atas perahu itu memanggil namaku dengan keras.
“Yolanda!!! Hoy Yolanda!!!”
“Ayah…
Ayah!!!” Teriakku dengan keras sambil melambaikan tangan kearahnya. Ibuku
melakukan hal yang sama denganku, tapi tak berteriak sepertiku. Ibu hanya
melambai dan menahan air mata keluar dari kedua matanya. Setelah sampai, ayah
lalu memeluk dan mencium kening kami berdua dengan rasa cinta. Karena sudah 3
tahun lamanya ayah pergi melaut tanpa kabar berita.
“Ayah, kemana saja?” Tanyaku
langsung tanpa menanyakan keadaannya
“Ayah mencari nafkah di laut, Yolanda” Jawab ayahku
sambil menguyek-nguyek kepalaku dengan rasa cinta dan kasih sayang. Kemudian
ayah menyuruhku untuk membawa hasil tangkapan ke rumah, dengan senang hati aku
lakukan. Aku membiarkan ayah dan ibu berdua untuk melepas kerinduan di pantai
ini.
“Istriku, apa dirimu merindukanku?”
“Tentu saja iya. Klo kau?”
“Begitu pula aku, aku amat sangat
merindukanmu.Lihatlah langit senja ini kasihku sungguh indah sekali” Ayah
berkata dengan nada yang lembut sambil memegang erat tangan ibuku seakan tak
mau kehilangan lagi.
“Wahai istriku, biarkanlah langit senja di pantai ini menjadi saksi kedua bagi kita setelahNya. Izinkanlah kukatakan kepadamu bahwa aku beruntung memiliki bidadari seindah dirimu di dunia ini” Ungkap ayahku sambil mengindra warna angkasa yang menjadi pelangi dimatanya.Kemudian ibu semakin mempererat genggaman tangan ayah. Hingga senja hilang menuntun malam. istriku, biarkanlah langit senja di pantai ini menjadi saksi kedua bagi kita setelahNya. Izinkanlah kukatakan kepadamu bahwa aku beruntung memiliki bidadari seindah dirimu di dunia ini” Ungkap ayahku sambil mengindra warna angkasa yang menjadi pelangi dimatanya.Kemudian ibu semakin mempererat genggaman tangan ayah. Hingga senja hilang menuntun malam.

Komentar
Posting Komentar