Kado senyuman dari Masa Lalu
“Dorrr! Dooorr!! Doooooor!!!”. Peluru-peluru berhamburan ke tiap sudut rumah
“Aaaa……..Saya mohon pak, jangan lukai anak saya, biarkan saya saja yang ditembak”. Seru seorang ibu yang sudah renta
“Ahh.. berisik kau ibu bodoh. Kalian berdua sama-sama akan mati”. Hardik sang rentenir dengan menendang kepala sang Ibu hingga berdarah
“Tapi pak, saya berjanji akan melunasi semua hutang-hutang saya”
“Janji??? Janjimu itu cuman ludah basi! Ngomong doang! Tapi mana buktinya? sampai sekarang belum lunas juga”
“Berikan saya kesempatan lagi pak”
Rentenir itu menodongkan senapannya ke arah wajah ibuku yang penuh darah.
“Door!”. Dan timah panas yang terakhirpun akhirnya bersarang di kepala ibuku
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu” Aku berteriak sambil memeluk erat tubuhnya yang penuh lebam bekas pukulan dan darah.
Melihat kejadian tersebut, aku langsung berteriak memanggil para warga. Sedangkan rentenir itu kabur entah kemana.
Peristiwa itu terjadi saat aku masih berusia 7 tahun, mungkin sudah lebih dari 18 tahun yang lalu. Kini usiaku telah beranjak 25 tahun. Namaku Renata Khansa Al-Asma. Panggil saja aku “Rere”. Sewaktu kecil, aku seperti kalian wahai sobat, memiliki banyak kawan, dan aku memiliki kedua orangtua yang sukses lahir maupun batin mereka merupakan kedua orang tua yang shaleh dan shalehah, mereka merupakan orangtua yang dikenal baik dan dermawan oleh para tetangga maupun kawan dan kerabatnya. Hal tersebut membuat salah satu teman dari ayahku iri, hingga berbuat buruk terhadap ayahku. Yah! Orang itulah yang menjebak ayahku, sehingga beliau harus rela dipecat secara tidak terhormat oleh atasan perusahaan itu. Setelah kejadian itu, ayah selalu murung dan mengurung diri didalam kamar, beliau hanya bisa menahan kesedihannya sendiri, setiap malam beliau terbangun untuk bermunajat dan berkhalwat diantara malam-malam yang sepi hanya untuk menyampaikan kesedihannya kepada tuhanNya. Ibuku tak mau tinggal diam, beliau membanting tulang menjajakkan kemampuannya sebagai seorang distributor makanan ringan. Tapi, usaha itu tidaklah berlangsung lama. Ibuku ditipu oleh salah satu temannya sendiri. Kala itu aku masih berumur 3 tahun. Ayahku kesana kemari melamar pekerjaan, tetapi yang selalu didapat oleh ayahku bukan pekerjaan, melainkan cacian serta makian. Sedangkan ibu, luntang lantung menjual satu persatu barang-barang yang kami miliki untuk kebutuhan kami sehari-hari. Sungguh memprihatinkan kehidupan kami waktu itu. Akan tetapi, semuanya telah menjadi skenario dari Yang Kuasa, ayah ibuku hanya bisa menjalaninya dengan lapang dada dan penuh dengan kesabaran luar biasa. Tiada sedikitpun keluhan dan kata-kata dendam yang mereka lontarkan, hanya do’a dan harapan yang selalu mereka pajatkan untuk meneguhkan kekuatan mereka. Aku hanya bisa memeluk mereka dari jauh, dan menghangatkan mereka dengan belaian manjaku. Mereka hanya bisa tersenyum di hadapanku sambil menyodorkan kasih sayang yang berlimpah kehadapanku.
“Rere sayang, ayahmu sudah tua, dan ibumu pula sudah kepala dua. Ibu harap, suatu saat kamu akan mengerti dan menjadi anak yang lebih baik daripada kedua orangtuamu ini. Suatu saat ibu berharap kamu memiliki imam yang solehah, dan harta yang halal. Ibu akan selalu mendo’akanmu nak…”
(Ungkap ibu dengan airmata yang berlinang dan tangannya yang mengelus-elus kepalaku)
“Brum brum…” Aku hanya bisa menjulurkan lidahku dan tertawa dihadapan kedua bola matanya yang dengan pancaran hangatnya menatapku
Dari situ, aku melihat segaris cahaya senyum indahnya.
“Ayah,ayah! Manyen menyen cama yeye yah, aen bonyeka yumah-yumahan (baca;Ayah,ayah! Maen maen sama rere yah, maen boneka rumah-rumahan)”
“Ayo kita maen sama ayah, kita jalan-jalan ke taman bunga sama-sama”
“Hoyeeee hoye, yeye sama ibu icut maen chama ayyahh (baca;Horeee horee, Rere sama Ibu ikut maen sama ayah)”
Itulah pertama kalinya kami sekeluarga (Ayah,aku, dan Ibu) piknik bersama di taman bunga kota kami. Hanya dengan berbekal makanan seadanya, kami berjalan kaki menuju ketempat tersebut yang jaraknya lumayan dekat dari kediaman kami. Dengan semangat membara, aku memegang erat tangan ayah dan ibuku. Erat dan semakin erat, hingga aku tak ingin melepaskan mereka walaupun hanya sekejap. Di taman Bunga itu, kami bertiga menghabiskan waktu bersama dalam keadaan suka gembira. Kami bertiga bermain petak umpet, kucing-kucingan, dan smack down. Jika waktu adalah benda, maka aku akan membelinya supaya aku bisa merasakan kebahagiaan ditengah-tengah mereka selamanya. Akan tetapi, semua kebahagiaan yang kurasakan itu semu. Beberapa bulan setelah kami piknik di taman bunga, ayahku terserang penyakit stroke yang selama ini ia hadapi. Ibuku dengan telaten mengurusi semua keperluannya. Tanpa arahan dari dokter, ibu nekat mengurusi dan merawat ayahku seorang diri. Aku hanya bisa menatap keadaannya. Aku hanya bisa meraba hatinya, aku hanya bisa menyentuh senyumannya. Tapi aku bukanlah tuhan yang sanggup menyembuhkan penyakitnya, dan aku bukanlah dokter yang bisa memberikan obat untuk meringankan kepedihannya. Dalam diam aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri
(“Ada apa dengan ayahku?”
“Ada apa dengan tubuhnya?”
“Mengapa beliau seperti ini?”)
Katika usiaku genap 4 tahun, bukan ucapan selamat ulang tahun yang kudapat. Bukanlah sebungkus hadiah yang aku terima. Akan tetapi, kenyataannya ayahku pergi meninggalkanku dan ibuku. Beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan guratan letih akan kehidupan, senyumannya terpantul nanar di balik ketegaran. Saat-saat terakhir yang pertama kali, dan semoga ini yang terakhir kalinya kulihat. Penyakit storke itu menemani ayah selama 10 bulan, tanpa disertai penanganan dari dokter dan alat-alat medis lain (Mis;Infus,Jarum Suntik. Dll) kerena kekurangan biaya. Akan tetapi, murni oleh tanaman-tanaman obat yang ibu minta dari tetangga. Aku salut sekali dengan perjuangan ayah dan ibuku. Mereka bekerjasama untuk menggapai ketenangan dalam hidup. Tapi, bukanlah kebahagiaan yang kami bertiga dapat, akan tetapi, kenyataan ‘takdir illahi’ yang datang dikala kami tengah merasakan kebahagiaan, meskipun ditengah-tengah kondisi ekonomi kami yang kurang.
Kini, nahkoda dalam keluargaku adalah ibu. Beliau kini yang menjadi seorang ksatria dalam menepis intrik-intrik kehidupan. Perasaan sedih ataupun luka atas kepergiaan ayahku, tak pernah beliau tunjukkan dihadapanku. Beliau merupakan ibu yang hebat. Dan dari kecil, aku sudah bertekad untuk bisa membawa kebahagiaannya kembali dihadapannya meskipun tanpa kehadiran seorang Ayah ditengah-tengah kami. Setelah kepergiaan ayahku, kehidupan kami semakin memburuk. Tidak hanya barang-barang di dalam rumah yang dijual. Akan tetapi, rumah satu-satunya peninggalan ayahpun harus ikhlas ibu jual untuk menyambung hidup dan demi sesuap nasi ibuku rela berjalan jauh sambil mendorong gerobak mencari barang-barang rongsok untuk kemudian dikumpulkan dan dijual kepada pengepul. Kulitnya yang dulunya putih bak mutiara, kini menjadi legam terbakar cahaya matahari seharian. Aku sudah mengerti keadaan ibuku. Karena dari kecil, kami selalu bersama, dan beliau tak pernah mengajariku untuk berperilaku cengeng. Beliau selalu berkata kepadaku
“Rere, jangan jadikan airmatamu sebagai senjatamu dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Jangan pula jadikan kesedihanmu, sebagai teman dalam mengembarai alur hidupmu, jangan pernah menyerah, meskipun ribuan panah menghujam tubuhmu, dan jangan pernah berhenti meskipun tubuhmu sendiri menyuruhmu untuk berhenti. Biarkanlah rasa cinta di hatimu tumbuh, biarkanlah rasa sayang di jiwamu bersemi, dan rawatlah senyumanmu dan bawalah kebahagiaan selalu didalam hari-harimu. Maka suatu saat, kebahagiaan akan hadir lalu memelukmu erat”
Ketika aku masih kecil, aku tak mengerti maksud dari kalimat yang indah itu, akan tetapi, kini aku sadari, bahwa beliau menginginkan senyuman bukan kesedihan. Dan keinginannya dariku hanya satu, yaitu senyuman bahagiaku dihadapannya. Hari demi hari, waktu demi waktu berganti membukakan cakrawala baru bagi kami. Ibuku membuka usaha baru, yaitu usaha konveksi. Beliau ahli dalam menjahit dan membuat aneka jenis pakaian. Beliau mahir dalam urusan desain dan pola. Usahanya kian sukses dan mencapai keberhasilan. Namun sepertinya, ujian itu belum pula meluluskan hidup kami. Karena kelalaian, rumah konveksi ibuku hangus terbakar oleh si jago merah. Api tersebut meluluh lantakkan setiap detil bangunan dan barang-barang berharga yang ada di rumah kami. Sekali lagi, kami harus pasrah menerima kenyataan yang ada dan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa. Ibuku memulai segalanya dari nol kembali. Mulai dari usaha yang dulu pernah dilakoni ibuku sperti tukang pijat, tukang rongsokan, dll. Usaha ibuku tidak membuahkan hasil yang pasti. Yang ada, ibuku malah terjebak kedalam hutang yang amat besar, dikarenakan biaya hidup yang semakin tinggi. Mau tak mau, ibuku harus menggali lobang dan menutup lobang kesana kemari hanya untuk membesarkanku dan mempertahankan kehidupan kami. Saat itu, usiaku 6 tahun. Tanpa pilihan lain, ibuku meminjam uang kepada rentenir sebanyak Rp100.000,-. Tidak terlalu banyak memang, akan tetapi jika terlambat mengembalikan akan berbunga dan berlipat-lipat menjadi semakin mahal. Pada bulan-bulan pertama, ibuku masih bisa membayarnya dengan tepat waktu, akan tetapi, lambat laun, hutang yang diterima semakin besar dan semakin mencekik. Ibuku tak sanggup lagi untuk membayar semua hutang-hutang tersebut yang telah terlampau melebihi hutang asli ibuku. Sedangkan rentenir itu terus menerus menagih pelunasan secara paksa dan kasar. Akhirnya ibuku terpaksa kabur dan memilih tinggal di tempat lain. Di daerah ini, kami merasa aman. Suasananya indah dan menentramkan, sejauh mata memandang, hanya hamparan tumbuhan-tumbuhan teh yang kami lihat. Tidak seperti di tempat kami dulu yang disekelilingnya dipenuhi dengan pohon-pohon tembok kaca raksasa yang menjulang tinggi. Selama kurang lebih 5 bulan, kami dengan leluasa melupakan semua kenangan pahit yang dulu kami rasa. Dan selama 5 bulan ini, ibuku menjadi seorang petani teh, di kebun milik rekan ibu di desa. Namanya adalah Pak Wahid beliau merupakan pria yang sopan dan ramah, murah senyum dan enak diajak untuk berbicara. Dialah yang menjadi ayah tiriku kini.
Selang beberapa waktu kemudian, rentenir-rentenir itu menemukan kediaman kami. Entah darimana mereka bisa tahu tempat persembunyian kami selama ini. Akan tetapi, ibu berusaha untuk tegar dan menghadapinya. Dari luar, pintu digedor dengan keras
“Dug,Dug! Tok tok tok tok tok dug!!! Oy Rosithah!! Buka pintunya! Gua tau, loe ada di dalem!”
(Tak ada jawaban dari dalam)
“Dalam hitungan tiga, gua bakalan dobrak pintu rumah loe! Satu…..Duaaaa…..Tigggghaa!”
Pintu rumah kami rusak, engselnya patah dan gagangnya hancur menjadi potongan. Kemudian ibu menyembunyikanku di bawah dipan.Setelah itu ibuku keluar dari dalam kamar untuk menghadapi rentenir itu.
“Kemana aja loe selama ini? Mau nyoba kabur dari gua hah???!!! Loe tau, hutang-hutang loe ada berapa? Loe tahu gua capek nyariin loe kemana-mana buat nagih hutang-hutang loe yang udah numpuk itu?! Dan sekarang, loe ngumpet disini? Ha! Loe gakkan pernah bisa kabur dari gue!! Loe tahu kan, gue ini siapa? Gue Arkan, pewaris Pulau Kalimantan!!! Catet tuh!” Ucap Rentenir itu dengan nada yang kasar dan tangan yang menunjuk wajah ibu
“Ma’af pak, saya masih belum bisa melunasi hutang-hutang itu?”
“What?? Trus, buat apa loe jauh-jauh kemari kalo elo emang gak bisa nyari duit buat ganti?”
“InshaAllah pak, klo saya sudah punya uang akan saya bayar”
“InshaAllah?? InshaAllah kata loe? Ampe kapan Ha??!! Ampe kiamat jug aloe gak bakalan bisa bayar utang itu ke gue!”
“Tapi pak,-“
“Alaaaaah….”
Kemudian, Pak Arkan mengeluarkan senapan laras panjangnya dari dalam tas. Seakan tahu keberadaaanku, dia berjalan ke arah kamar dimana aku disembunyikan oleh ibuku dengan sangar ia menarik tanganku keluar dari tempat persembunyian sambil menodongkan senjatanya ke arah pelipisku. Ibuku langsung menangis dan menunduk, menahan amarahnya yang melonjak
“Ma’afkan ibu nak, ibu menangis dihadapanmu. Padahal, ibu selalu berkata untuk jangan menangis. Ma’afkan ibu nak…” Lirih ibu dengan mata yang dibanjiri oleh air mata
“Dorrr! Dooorr!! Doooooor!!!”. Peluru-peluru berhamburan ke tiap sudut rumah
“Aaaa…….. Saya mohon pak, jangan lukai anak saya, biarkan saya saja yang ditembak”. Seru seorang ibuku yang sudah renta
“Ahh.. berisik kau ibu bodoh. Kalian berdua sama-sama akan mati”. Hardik sang rentenir dengan menendang kepala sang Ibu hingga berdarah
“Tapi pak, saya berjanji akan melunasi semua hutang-hutang saya”
“Janji??? Janjimu itu cuman ludah basi! Ngomong doang! Tapi mana buktinya? sampai sekarang belum lunas juga”
“Berikan saya kesempatan lagi pak”
Rentenir itu menodongkan senapannya ke arah wajah ibuku yang penuh darah akibat tendangan dan pukulan.
“Door!”. Dan timah panas yang terakhirpun akhirnya bersarang di kepala ibuku
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu” Aku berteriak sambil memeluk erat tubuhnya yang penuh lebam bekas pukulan dan darah.
Melihat hal tersebut, Rantenir itu ketakutan dan melarikan diri dari rumah kami. Sedangkan aku masih memeluk erat tubuhnya merasakan sentuhan terakhirnya dan membantunya untuk mengucapkan syahadat.
“Aaassshhadu Allaaa I,iiilaaha illallahu, wa’ashhhadu annaa muha-mmm-addarra-ssu-lullaaah, re~ree, ja,ja-dilah se,se-orang yaa-ng su-ksesss. Ma-ma’afkan i-bu.”
Tangannya semakin melemah hingga kemudian terjatuh dari wajahku.
“Ibu? Ibu? Ibuuuuuuuuuuu?? Jangan tinggalin rere ibu, ibu? Ibu bangun…!!! Ibu??”
Dengan langkah yang tergopoh-gopoh, aku memanggil Pak Wahid yang ada di kebun. Aku meminta tolong kepada para warga setempat. Dengan teriakan dan tangisan aku berlari kesana kemari untuk meminta pertolongan. Ibuku yang telah terbujur kaku kemudian dibawa ke rumah sakit untuk di autopsi. Sedangkan sang pelaku telah tertangkap oleh pihak kepolisian untuk kemudian dihukum selama 20 tahun penjara. Menurutku itu bukan hukuman, akan tetapi itu merupakan liburan yang panjang baginya, bagiku rentenir itu harus dihukum mati. Tapi, ya sudahlah nasi telah menjadi bubur. Biarkalah peristiwa itu menjadi cambukan hidupku yang sarat akan kepedihan dan perjuangan. Setelah kepergian ibuku, aku dirawat oleh Pak Wahid, yang kini telah aku anggap sebagai ayahku sendiri, dan ibu Tuti yang kuanggap sebagai ibuku sendiri. Aku berusaha untuk menjadi yang terbaik dan berguna bagi semua orang. Aku selalu mencoba untuk tersenyum dan membahagiakannya meskipun dari dunia yang berbeda. Aku berharap, kedua orangtuaku akan mendapat kebahagiaan disisiNya.
“The End”
“Wahai sobat . . . Jangan jadikan airmatamu sebagai senjatamu dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Jangan pula jadikan kesedihanmu, sebagai teman dalam mengembarai alur hidupmu, jangan pernah menyerah, meskipun ribuan panah menghujam tubuhmu, dan jangan pernah berhenti meskipun tubuhmu sendiri menyuruhmu untuk berhenti. Biarkanlah rasa cinta di hatimu tumbuh, biarkanlah rasa sayang di jiwamu bersemi, rawatlah senyumanmu dan bawalah kebahagiaan selalu didalam hari-harimu. Maka suatu saat, kebahagiaan akan hadir lalu memelukmu erat”.
By: Hilda 'Amalia


Komentar
Posting Komentar