Pengalaman Ekspedisi Kehidupan di Negri Orang

Halo Semuanya,((>0<v)(v^0^*))Sepertinya sudah lama sekali aku gak posting di blogku sendiri. ο(*´˘`*)ο ok, kali ini aku bakalan nyeritain pengalaman ku belajar di negeri matahari terbit yang pastinya smua orang udah tau negara apa. Aku bakalan nyeritain pengalaman dari paaaaaaaaaaaaaaasssss pertama kali nyampe ampe sekarang aku bisa hidup nyaman tanpa risih dan pusing mikirin ini itu. Pas pertama kali tiba di Jepang, karna aku bakalan sekolah di Osaka, makanya pesawatnya tiba di Kansai Airport. Kansai Airport merupakan bandara yang mewah diatas hamparan laut yang luas banget, karna memang pulau buatan ini memang sengaja dibuat khusus untuk bandara aja guys. Pas awal-awal dateng ke Jepang, sumpah ngantuk banget, mana gak ada orang yang aku kenal lagi *pastinya ribet gak jelas. Karna aku memang datang tanpa jemputan or orang yang jemput di bandara *berangkatnya kecepetan, mau gak mau aku harus nyari jalan sendiri. Tiba di Imigrasi Bandara, ada seorang senpai (kakak kelas) yang bakalan pergi ke Universitas Kyoto *sendiri dan gak dijemput lagi (senasib) dari negara yang sama denganku Indonesia dan ada juga senpai yang datang dari Kanada, mulai membuka perkenalan dan mengalirlah pembicaraan di antara kami. Hehehe.. syukurlah.. ^_^ sejak saat itu kami selalu bertukar kondisi masing-masing, senpai itu merupakan teman pertama dan keduaku di Negeri Sakura ini. (*゚ ∇ ゚ )           Okey, karna kami beda arah jalannya, terpaksa di jalan keluar pintu Airport harus terpisah, dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan masing-masing. Senpai naik JR (Kereta Cepat selain Shinkansen) ke Kyoto, dan aku naik Bis dari Airport ke Nanba(salah satu nama kota di osaka), di bis aku bertemu seorang orang Jakarta yang hendak berlibur di Osaka selama 5 hari, tapi tak mampu berbahasa jepang dan tak memiliki peta pariwisata bersamanya. Maka dari itu setelah dia tau aku orang Indonesia dan lumayan bisa berbicara bahasa jepang, dia menyuruhku membantunya menemukan jalan ke Hotel tempatnya menginap. Ada sedikit masalah disini, karna beratnya barang bawaan yang kubawa, aku menjatuhkannya di eskalator sehingga mengenai pria jepang yang berada di eskalator itu. Dengan rasa malu dan penyesalan yang teramat aku membungkukan tubuhku sedikit sambil meminta maaf padanya "Hontou ni Moushiwake Gozaimasen deshita" untungnya orang itu tidak marah ataupun menyentak ku, dia hanya mengangguk dengan tersenyum dan melambaikan tangannya padaku, (entah dibelakang dia menjelekkanku atau tidak) hahaha.. Okey, kembali ke orang jakarta itu, dengan bermodalkan peta Chikatetsu (Kereta bawah tanah) yang didapat dari Front office Namba Stasiun, aku memberi tahukan arah padanya dan cara-cara mencapai ke tempat dimana ia menginap. Entah beliau panik, ketakutan, atau tak mengerti penjelasanku (padahal aku pake bahasa indonesia yang baku) dia selalu tak bisa mengulang apa yang kukatakan. Dengan nada agak sedikit kesal (karna belum makan, belum sholat, belum menghubungi college, dan belum menemukan pintu masuk chikatetsu ke tempat tujuanku) aku mencoba lagi membantunya menemukan jalan sembari mengantarnya ke pintu masuk chikatetsu yang akan dia naiki, dari situ aku hanya bisa meminta maaf atas sikapku dan mendoakan keselamatannya. Dengan wajah watado dia terus menarik lenganku untuk ikut bersamanya dan menemani liburannya selama di Osaka, "WHAT?? I've to find my college and my apartment!!" Jawabku dalam hati. Setelah kujelaskan dengan nada selembut-lembutnya, akhirnya beliau pasrah melepasku, meninggalkannya dalam seribu kepanikan tak berarti. 

Tak berhenti sampai disitu, sesampainya di tempat naik chikatetsu, aku dibingungkan dengan banyaknya penumpang yang naik, dengan barang bawaan seperti orang yang kabur dari rumah, aku tak bisa naik begitu saja, padahal masinis kereta nya dengan baik hati menungguku hingga naik ke kereta, aku hanya melambaikan tangan dan kemudian pura-pura berjalan ke part berikutnya. Setelah kereta berangkat, ada seorang Ibu-ibu yang dengan senyum ramah menjelaskan padaku arah dan kereta yang benar, dan beliaupun membantuku membawa koper dan bawaanku, (ahh... baiknya... >_<) setelah sampai di Honmachi, ABG Osaka mengucapkan Selamat datang di Osaka dan Nikmatilah kehidupanmu disini katanya dalam bahasa jepang. Aku tertegun, dan melanjutkan kembali perjalananku ke college tempatku akan menimba ilmu. Setiba disana aku disambut belasan guru dengan ribuan persen senyum yang menyambutku dengan hangat. Sensei mengkhawatirkanku karna aku terlambat 2 jam dari yang dijadwalkan. Dari sekolah aku diantar hingga ke Apartemen tempatku akan tinggal selama setengah tahun. Aku sedikit khawatir dengan teman sekamarku, karna dari negara berbeda dan kehidupan yang berbeda, banyak sekali hal-hal negatif yang terbayang di benakku. Sesampai di apartemen, Sensei yang menyertaiku menjelaskan semuanya kepadaku termasuk alat-alat elektronik yang benar-benar berbeda dengan yang ada di Indonesia (hahaa Udik). Setelah semuanya dimengerti, sensei meninggalkanku, dan aku mulai merapikan semua barang-barangku. 
Tak luput pula aku selalu membayangkan roommate ku, apakah dia membenci orang indonesia dan muslim sepertiku? apa dia tak menyukai memiliki teman sepertiku? semua pertanyaan negatif aku lontarkan dalam benakku sendiri. Aku menunggu hingga larut, tapi teman sekamarku tak kunjung datang. Hingga aku mulai terlelap, tiba-tiba seseorang membuka pintu dan jreng jrengg..... sumpah cantik bangett.... mungkin klo dia pergi ke Indonesia, pasti langsung ditawarin jadi artis sama orang TV. Beliau orang Mongolia, dengan paras cantik dan usia yang jauh diatasku aku selalu memanggilnya "Onee-san" (Kaka perempuan). Dan tak disangka-sangka, Nee-san sangat ramah padaku, pulang larut bukan karna tak ingin melihat wajahku tetapi karna tempat Baito (Kerja Part time)nya yang membuatnya pulang larut malam. Dimulailah perkenalan kecil pengantar tidur. Pagi berikutnya kami mulai membagi-bagi tugas dan mendiskusikan hal-hal yang harus dilakukan setibanya di jepang. Karna saking baiknya, terkadang aku sering sekali merepotkannya, seperti menemaniku untuk menghafal jalan, dsb. Hingga terkadang aku selalu sendiri mengurus urusanku tanpa sepengetahuan Nee-san. Beliau sudah kuanggap sebagai kakak ku sendiri, dan begitupun beliau menganggapku sebagai adiknya. Aku membicarakan mengenai keyakinanku, dengan harap-harap cemas aku mengharapkan pengertiannya. Dan ternyata Nee-san pun dengan senang hati menerima perbedaan diantara kami. ー(⊃´Д`⊂)ー terharu.... 

Dari situlah aku bisa menjalankan kehidupan dan ibadahku dengan nyaman juga kedekatan kami semakin baik, bahkan ketika aku mengenakan jilbab pun, Nee-san menginginkan jilbab yang kupakai sambil memuji penampilanku dengan berkata "Kawaii" sambil mengepit wajahku dengan kedua telapak tangannya. Stiap hari selalu saja penuh dengan candaan. Hari-hari berikutnya, aku bisa berteman dengan Orang Sri Lanka, tak cuma seorang tapi 4 orang sekaligus, (人´∀`)padahal tadinya aku takut tak bisa memiliki teman. Dari situ kami selalu bersama, jalan-jalan, menghafal jalan, bertukar pikiran dsb. A, ngomong-ngomong soal menghafal jalan, aku paling lemah dalam hal tersebut, sudah beberapa kali aku merepotkan banyak orang, bahkan hingga polisi mengantarku pulang. ㌧(ノω`。)ノ malu sekali. Tapi, dari situ aku bisa berinteraksi langsung dengan mereka tanpa ada kasta atau penghambat diantara kami. Cerita pertama, ketika aku sendiri ingin membeli sepeda, karna toko sepeda di depan apartemenku sedikit mahal, aku bermaksud pergi ke toko lain, dan aku mendapatkan sepeda dengan harga yang murah dan masih baru. 。:.゚ヽ(´∀`。)ノ゚.:。 ゜ eitsss.... tapi ketika akan kukayuh sepedaku, aku melupakan jalan pulang, >_< entah karna gengsi atau tak mau mengganggu si pemilik toko yang sedang bertugas, aku memutuskan untuk pergi sendiri dengan mengayuh sepeda baruku. Lamaaaaa sekali aku mengayuh tanpa sadar, aku sudah melewati batas kota, darisitu aku mulai panik, dan bertanya kepada seorang ibu disebelahku, dengan baik hati dan rasa salut padaku karna aku mengayuh sepeda nonstop tanpa berhenti hampir 5 jam lebih lamanya, dengan baiknya aku diantarkan ke "Kouban" (Pos polisi) terdekat, dari situ aku ungkapkan semua keadaanku dalam bahasa jepang tentunya, dan cerobohnya lagi, aku lupa membawa alamat apartemen, dan nomor telepon Nee-san, akupun tak bisa mengingat alamat apartemen tempatku tinggal. Dengan wajah geli akan diri sendiri, tingkahku membuat kedua polisi yang berjaga tertawa akan tingkah cerobohku. Tanpa petunjuk sedikitpun, mereka berhasil menghubungi college ku dengan meminta nomor telpon kepada Pos Polisi di daerah dekat college ku. Aku belum bisa lega, karna aku masih belum bisa mencapai rumah, belum makan apapun, dan belum menunaikan shalat, dan tak bisa menghafal jalan!!!Dengan sabar dan teliti, kedua polisi itu menggambarkanku peta, dan mengantarkanku hingga ke kota, aku membungkuk dan mengucapkan terimakasih dengan mata yang berkaca-kaca (karna lapar). Polisi itu lantas berlalu sambil memperingatkanku untuk tidak kembali tersesat. Dengan senyum terkembang polisi keren itu kembali. Dengan peta ditanganku, aku mulai menyusur jalan-jalan yang tertera, mengikuti petunjuk yang dituliskan diatas kertas ukuran 10x15 cm itu. Bukannya mencapai rumah, aku malah tersesat kembali, tapi tiba-tiba di jalanan pasar tradisional osaka, seorang pria paruh baya, memanggilku dan menyapaku dengan "Konnichiwa" aku tersenyum dan menyerahkan secarik kertas yang diberikan polisi tadi, dengan spontan dia mengayuh sepedanya dan menyuruhku untuk mengikutinya, sedangkan teman-temannya yang lain menatapku dengan tatapan hangat dan anehnya mereka tau negaraku berasal, padahal aku tak pernah bertemu mereka. Dengan cepat aku mengikuti pria itu melintasi jalanan kota yang penuh padat orang orang-orang yang pulang dari kantor. Dan beliau mengantarku ke Stasiun kereta. "Ehhh???? Stasiun kereta???" aku berkata dengan nada lantang, bapak itu berkata "Akan lebih cepat dengan kereta". "Iya aku tau, tapi bagaimana dengan sepedaku?" aku khawatir, karna itu sepeda baru. Si bapak itu malah turun mengabaikan teriakanku dan membelikanku tiket kereta dengan uangnya. Selembar tiket itu dia serahkan padaku, dan memberiku uang ongkos lain, tapi dengan halus kutolak. Dari situ aku bertanya mengapa dia baik sekali kepadaku, dan bapak itu menjawab "Karna dulu ada juga orang Indonesia yang menolongku" sebelum aku pergi, bapak itu mengucapkan "Kiotsukete" (hati-hati) padaku, hingga bayangannya hilang dari pandangan, aku melaju dengan chikatetsu. Sesampainya di pintu keluar chikatetsu, aku tak tau arah ke apartemenku, aku berjalan kesana kemari bertanya arah, hingga sampailah pada seorang kakek di depan mini market Lawson, menatapku sambil berkata "Konnichiwa" aku membalasnya sambil bertanya alamat yang ada padaku, dengan kening yang dikerutkan, dia mengantarku berkeliling dan bertanya ke sana kemari, sambil menceritakan tentang negaraku, kakek terlihat tersenyum dan menikmati alur cerita yang kuungkapkan. Dan tibalah kembali di tempat aku membeli sepeda tadi pagi, dengan rasa malu, aku bersembunyi desamping pom bensin, sedangkan sang kakek membawa serta kertas alamat dan menyodorkannya pada si pemilik toko, si pemilik toko sudah tak asing lagi denganku, tapi dia pura-pura tak melihatku, dan menunjukan arah pada kakek tadi. Sang kakek kembali padaku, membawaku berjalan di sekitar perumahan-perumahan, tak kenal lelah kakek itu menceritakan mengenai pelajaran bahasa inggris yang diajarkan disekolahnya dulu, namun kebanyakan orng jepang tak mampu berbicara dengan baik dalam bahasa inggris. Sampailah kami di apartemenku, sang kakek merasa lega karna aku bisa sampai dengan selamat, dengan sedikit cemas, kakek itu masih menanyai keadaanku "anta, daijoubu? ato, daijoubu kana?" (Kamu, gak apa"? udah ini gak apa kan?) aku menjawab sambil membungkuk bahwa aku baik-baik saja, dengan terimakasih yang teramat aku memperhatikan sang kakek hingga beliau menghilang dari pandanganku. 


#bersambung?

Komentar

Postingan Populer